<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Refleksi Cinta Sejati</title>
	<atom:link href="http://cintaislam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cintaislam.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 15:13:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cintaislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Refleksi Cinta Sejati</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cintaislam.wordpress.com/osd.xml" title="Refleksi Cinta Sejati" />
	<atom:link rel='hub' href='http://cintaislam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Memutuskan Hubungan Saudara Muslim Lebih dari Tiga Hari</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/memutuskan-hubungan-saudara-muslim-lebih-dari-tiga-hari/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/memutuskan-hubungan-saudara-muslim-lebih-dari-tiga-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2007 10:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/memutuskan-hubungan-saudara-muslim-lebih-dari-tiga-hari/</guid>
		<description><![CDATA[Di antara langkah syaitan dalam menggoda dan menjerumuskan manusia adalah dengan memutuskan tali hubungan antara sesama umat Islam. Ironinya, banyak umat Islam terpedaya mengikuti langkah langkah syaitan itu. Mereka menghindar dan tidak menyapa saudaranya sesama muslim tanpa sebab yang dibenarkan syara’. Misalnya karena percekcokan masalah harta atau karena situasi buruk lainnya. Terkadang, putusnya hubungan tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=65&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"> Di antara langkah syaitan dalam menggoda dan menjerumuskan manusia adalah dengan memutuskan tali hubungan antara sesama umat Islam. Ironinya, banyak umat Islam terpedaya mengikuti langkah langkah syaitan itu. Mereka menghindar dan tidak menyapa saudaranya sesama muslim tanpa sebab yang dibenarkan syara’. Misalnya karena percekcokan masalah harta atau karena situasi buruk lainnya.<span id="more-65"></span></p>
<p align="justify">Terkadang, putusnya hubungan tersebut langsung terus hingga setahun. Bahkan ada yang sumpah untuk tidak mengajaknya bicara selama-lamanya, atau bernadzar untuk tidak menginjak rumahnya. Jika secara tidak sengaja berpapasan di jalan ia segera membuang muka. Jika bertemu di suatu majlis ia hanya menyalami yang sebelum dan sesudahnya dan sengaja melewatinya. Inilah salah satu sebab  kelemahan dalam masyarakat Islam. Karena itu, hukum syariat dalam masalah tersebut amat tegas dan ancamanya pun sangat keras.</p>
<p>Abu Hurairah <em>Radhiallahu’anhu</em>  berkata, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: <em>“Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka”</em>  (HR: Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’: 7635)</p>
<p>Abu khirasy Al Aslami  <em>Radhiallahu’anhu</em> berkata, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: <em>“Barangsiapa memutus hubungan  dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan darahnya  (membunuhnya) “</em> (HR: Al Bukhari Dalam Adbul Mufrad no : 406, dalam Shahihul  Jami’: 6557)</p>
<p>Untuk membuktikan betapa buruknya memutuskan hubungan antara sesama muslim cukuplah dengan mengetahui bahwa Alloh menolak memberikan ampunan kepada mereka. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah <em>Radhiallahu’anhu</em>, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: <em>“semua amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap Jum’at (setiap pekan) dua kali; hari senin dan hari kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni (dosanya) kecuali hamba yang di antara dirinya dengan saudaranya ada permusuhan. Difirmankan kepada malaikat :” tinggalkanlah atau tangguhkanlah (pengampunan untuk) dua orang ini sehingga keduanya kembali berdamai”</em> (HR: Muslim: 4/1988)</p>
<p>Jika salah seorang dari keduanya bertaubat kepada Alloh, ia harus bersilaturrahim kepada kawannya dan memberinya salam. Jika ia telah melakukannya, tetapi sang kawan menolak maka ia telah lepas dari tanggungan dosa, adapun kawannya yang menolak damai, maka dosa tetap ada padanya.</p>
<p>Abu Ayyub <em>Radhiallahu’anhu</em>  meriwayatkan, Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: <em>“Tidak halal bagi seorang laki-laki memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam”</em> (HR: Bukhari, Fathul  Bari: 10/492)</p>
<p>Tetapi jika ada alasan yang dibenarkan, seperti karena ia meninggalkan shalat, atau terus menerus melakukan maksiat sedang pemutusan hubungan itu berguna bagi yang bersangkutan misalnya membuatnya kembali kepada kebenaran atau membuatnya merasa bersalah maka pemutusan hubungan itu hukumnya menjadi wajib. Tetapi jika tidak mengubah keadaan dan ia malah berpaling, membangkang, menjauh, menantang, dan menambah dosa maka ia tidak boleh memutuskan hubungan dengannya. Sebab perbuatan itu tidak membuahkan maslahat tetapi malah mendatangkan madharat. Dalam keadaan seperti ini, sikap yang benar adalah terus-menerus berbuat baik dengannya, menasehati dan mengingatkannya.</p>
<p>Seperti  hajr (pemutusan hubungan)  yang dilakukan Nabi <em>Shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> kepada Ka’ab bin Malik dan dua orang kawannya, karena beliau melihat dalam hajr tersebut terdapat maslahat. Sebaliknya bila menghentikan hajr kepada Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang munafik lainnya karena hajr kepada mereka tidak membawa faidah.
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/65/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/65/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=65&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/memutuskan-hubungan-saudara-muslim-lebih-dari-tiga-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjauhi Adu Domba</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/menjauhi-adu-domba/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/menjauhi-adu-domba/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2007 10:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/menjauhi-adu-domba/</guid>
		<description><![CDATA[Adu domba merupakan perangai tercela yang menanamkan dendam diantara manusia, ini merupakan sifat yang dibenci setiap muslim dan muslimah. Sifat yang buruk ini tidak boleh diremehkan, karena diantara ciri-ciri adu domba dan yang telah ditetapkan baginya, bahwa ia bisa memisahkan seseorang dengan kerabatnya, seseorang dengan teman-temannya, bahkan dirinya dengan anggota saudaranya sendiri. Diantara kisah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=64&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"> Adu domba merupakan perangai tercela yang menanamkan dendam diantara manusia, ini merupakan sifat yang dibenci setiap muslim dan muslimah. Sifat yang buruk ini tidak boleh diremehkan, karena diantara ciri-ciri adu domba dan yang telah ditetapkan baginya, bahwa ia bisa memisahkan seseorang dengan kerabatnya, seseorang dengan teman-temannya, bahkan dirinya dengan anggota saudaranya sendiri.<span id="more-64"></span></p>
<p class="farial" align="justify">Diantara kisah yang menggambarkan sensitifnya sifat ini adalah sebagaimana disebutkan Syeikh Ibnu Qudamah di dalam kitabnya &#8220;Mukhtashar Minhajul Qashidin&#8221; bahwa seseorang menjual budak. Dia berkata kepada pembelinya, budak ini tidak mempunyai satu aibpun hanya saja dia suka mengadu domba, tidak menjadi soal bagiku kata pembeli.</p>
<p>Setelah beberapa hari budak itu berada dirumah pembeli, dia menghampiri tuannya seraya berkata, &#8220;Sebenarnya tuanku tidak mencintai nyonya. Meskipun begitu, dia tetap ingin menikahi nyonya. Jika nyonya menghendaki, saya bisa membujuknya agar dia tidak menceraikan nyonya, lalu ambillah pisau untuk mencukur rambutnya tatkala dia tidur. Hal ini bisa menyihirnya, sehingga dia senantiasa mencintai nyonya.&#8221;</p>
<p>Lalu budak itu berkata kepada tuannya, &#8220;istri tuan berkomplot dengan seseorang dan ingin membunuh tuan selagi tuan sedang tidur.&#8221; Maka sang tuan pura-pura tidur, lalu sang istri menghampirinya pelan-pelan sambil membawa pisau. Dia mengira istrinya benar-benar akan membunuhnya. Maka dia segera bangkit dan membunuh istrinya. Keluarga sang istri mendatanginya, lalu membunuhnya. Bahkan permusuhan merembet antara kabilah suami dan istri.</p>
<p>Adu domba bisa menimbulkan tindak pembunuhan, bahkan peperangan antara dua kabilah. Di dalam masyarakat kita banyak terdapat peristiwa yang menunjukkan betapa besar akibat yang ditimbulkan adu domba. Sedangkan istri yang ideal mempunyai sikap yang pasti dalam menghadapi adu domba sesuai dengan hukum syari&#8217;at tentang adu domba, bahwa; <em>&#8220;tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.&#8221;</em> <span class="ref">(muttafaq alaihi).</p>
<p></span>Jika ada seseorang wanita yang menghampirinya dan mengucapkan perkataan yang buruk, dan hal ini seringkali terjadi, maka dia tidak mau mendengarkannya dan tidak memperdulikannya. Bahkan kalau perlu dia membungkam mulut wanita tersebut dan menimpukkan batu kepadanya, sekedar untuk mengajarkan haramnya adu domba.</p>
<p>Ada kalanya seseorang berkata padanya, &#8220;Suamimu telah berbuat begini dan begitu&#8221;, atau &#8220;Dia merasa respek terhadap masakan wanita lain&#8221;, atau &#8220;Dia hendak menikah lagi&#8221;. Tetapi dalam kondisi seperti apapun istri yang solehah dan ideal bisa keluar dari setiap cobaan dengan mendapat kemenangan, rumah tangganya tetap utuh karena memang dia sudah dipersiapkan sebagai istri yang ideal. An-Nawawy rahimahullah menyebutkan bahwa wanita yang menerima kedatangan orang lain yang hendak mengadu domba dan mengatakan begini dan begitu padanya, harus bersikap sebagai berikut:</p>
<ol class="farial">
<li>
<p align="justify">Tidak membenarkan perkataannya, karena dia orang yang suka mengadu domba dan fasik.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Melarang tindakannya, menasihatinya dan menunjukkan sisi keburukan perbuatannya.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Membencinya karena Alloh, karena dia adalah orang yang dibenci di sisi Alloh. Kita harus membenci orang yang dibenci Alloh.</p>
</li>
</ol>
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/64/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/64/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=64&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/menjauhi-adu-domba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nyata Orang Yang Memiliki Jiwa Besar</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/kisah-nyata-orang-yang-memiliki-jiwa-besar/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/kisah-nyata-orang-yang-memiliki-jiwa-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2007 10:34:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/kisah-nyata-orang-yang-memiliki-jiwa-besar/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sekali contoh dari para umat terdahulu yang sholeh yang patut kita teladani berkaitan dengan sifat &#8216;afuu. Di sini tidak digunakan Rasululloh shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagi contoh karena beberapa sebab. Pertama adalah bahwa akhlak Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam adalah akhlak Al-Quran, sebagaimana yang disampaikan oleh Ummul Mu&#8217;minin A’isyah  RadhiAnha,  كَانَ خُلقُهُ القُرْاَنَ  &#8221;sunguh akhlak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=63&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"> Banyak sekali contoh dari para umat terdahulu yang sholeh yang patut kita teladani berkaitan dengan sifat <strong>&#8216;afuu</strong>. Di sini tidak digunakan Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> sebagi contoh karena beberapa sebab. Pertama adalah bahwa akhlak Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> adalah akhlak Al-Quran, sebagaimana yang disampaikan oleh Ummul Mu&#8217;minin A’isyah  <em>RadhiAnha</em>, <strong> </strong><strong>كَانَ خُلقُه</strong>ُ<strong> القُرْاَن</strong><strong>َ </strong> &#8221;sunguh akhlak beliau (Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>) adalah al-Quran.&#8221; Karena akhlak beliau adalah Al-Quran, maka jelas kita meyakini bahwa dari sisi akhlak beliaulah yang paling mulia, paling lapang dada dan berjiwa besar. Sebab kedua agar orang tidak beralasan bahwa Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> dapat bersifat lapang dada dan berjiwa besar dan mudah memaafkan karena beliau adalah rasul, maksum dan telah disucikan oleh Alloh<em> Subhanallohu wa Ta’ala</em>,  telah disucikan dari bagian setan, telah dibersihkan dadanya dari bagian-bagian syaitan ketika beliau masih kecil dan ketika isra’ dan mi’raj. Hal ini kemudian dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan-perbuatan salahnya.<span id="more-63"></span></p>
<p align="justify">Oleh sebab itu kami ambil contoh dari para pendahulu umat yang sholeh agar orang tidak beralasan dengan alasan-alasan tersebut. Dan agar kita dapat mengukur seberapa jauh akhlak kita dibanding dengan akhlak mereka. Yang paling penting adalah kita merubah akhlak kita tidak perlu kita melihat contohnya dari siapa. Artinya walaupun contohnya bukan dari Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>, yang paling penting adalah kita mencoba merubah akhlak kita.</p>
<p>Cobalah kita menguji bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbeda dengan kita, berbeda dalam aqidah, berbeda dalam manhaj, apakah sikap setiap kita sepeti yang dicontohkan oleh para pendahulu umat yang sholeh? Sekarang kita lihat orang yang tidak memiliki keimanan sama sekali, maka sebagimana keyakinan ahlusunnah wal jamaah kita tidak boleh memberikan wala&#8217; sedikitpun kepada orang tersebut.  <em>“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Alloh Subhanallohu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.” </em>(QS. Al Mujaadilah:22).</p>
<p>Berbeda dengan orang yang pada dirinya masih terdapat amal shalih dan amal syaiyi’ (amal yang tidak baik), yang terkumpul di dalamnya subhat, bid’ah, kesesatan atau syahwat, terkumpul di dalamnya kebaikan dan maksiat, maka wala’ dan baro’ kita terbagi, tidak di-wala’ 100% dan juga tidak di-baro’ 100% . Kita tidak baro&#8217; 100% dan tidak juga wala&#8217; 100% untuk orang seperti ini karena aqidah ahlusunnah wal jama&#8217;ah dalam masalah seperti ini kita mencintai seseorang sesuai dengan kadar keimanannya dan itiba’nya pada sunnah, dan kita benci pada orang yang sama sesuai dengan kadar penyimpangannya dari syariat ini.</p>
<p>Inilah yang kadang-kadang menjadi rancu pada sebagian orang ketika bermuamalah terhadap orang lain yang berbeda. Yang seharusnya diberikan sikap yang menjadi aqidah ahlusunnah wal jama&#8217;ah terhadap orang yang didalamnya ada keimanan dan maksiat, ada keimanan dan ada bid’ah, ada keimanan dan syubhat, maka wala kita tidak diberikan 100% dan tidak juga ditinggalkan 100%, yang diberikan wala&#8217; 100% hanya kepada orang yang beriman dengan sempurna, akan tetapi terhadap orang yang beriman yang didalamnya masih tercampur amal yang shaleh dan amal yang tidak shaleh, masih ada dalam dirinya bid&#8217;ah maka wala&#8217; kita tidak diberikan 100%. Kita mencintai seseorang sesuai dengan kadar keimanan dan itiba’nya terhadap sunnah, dan kita benci sesuai dengan kadar penyimpangannya dari sunnah. Inilah yang digunakan alasan sebagian orang untuk membela dirinya dengan menghatasnamakan dien dengan mengatasnamakan agama dengan mengatasnamakan  sunnah.</p>
<p>Sekarang kita lihat contohnya dari Imam Ahmad, imam ahlu sunnah wal jama&#8217;ah, yang beliau dirantai dan disiksa dari satu penjara ke penjara yang lain, beliau disiksa di siang hari di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa. Dimasukkan ke dalam penjara sementara darah masih menetes dari tubuhnya pada saat fitnah khalqil Quran (para ahlu bid&#8217;ah dan penguasa memaksa Imam Ahmad untuk mengatakan &#8220;Al Quran Makhluk&#8221;, padahal Al Quran bukan makhluk akan tetapi Firman Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em>). Kita perhatikan belaiu, ketika beliau marah, marahnya bukan untuk membalas, belaiu marah bukan untuk hawa nafsunya akan tetapi marahnya karena Alloh Subhanallohu wa Ta’ala I. Belaiu mengatakan ”semua yang pernah membicarakanku meka mereka semua halal dan aku maafkan semua. Dan aku memaafkan Abu ishaq,  (Raja Muktasim yang telah memenjarakan dan menyiksa belaiu dengan siksaan yang berat).&#8221; dan kemudian beliau mengatakan “aku maafkan Abu Ishaq, aku melihat melihat firman Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em>, yang artinya:<em>“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Alloh Subhanallohu wa Ta’ala mengampunimu?&#8221; </em>(QS. An Nuur:22).</p>
<p>Tidakkah kita  melihat bahwa Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala, </em>Maha Pengampun lagi Maha Pemurah. Jadi, ini menunjukkan bagaimana Alloh<em> Subhanallohu wa Ta’ala </em>memerintahkan hamba-hambanya untuk memberi maaf kepada orang lain. Rasullloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan Abu Bakar untuk memafkan pada kisah tuduhan palsu pada ‘Aisyah <em>RadhiAllohu &#8216;Anha </em>yang dituduh oleh orang munafiqin melakukan perbuatan zina dengan salah seorang sahabat.</p>
<p>Apa manfaatnya bagi kita, Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em> mengadzab seseorang hanya untuk kepentingan kita? untuk memuaskan kepentingan kita dan membalas dendam kita?</p>
<p>Imam Ahmad setelah disiksa, tidak pernah membuka lagi catatan-catatan yang dulu ketika beliau disiksa. Beliau tidak ingin mengingat lagi orang-orang yang dahulu pernah terlibat terhadap penyiksaan beliau. Beliau tidak pernah mengingat lagi &#8220;Si fulan yang dulu mengejek saya , Si fulan yang dulu begini dan begini”. Beliau tidak membuat perhitungan dengan orang-orang tersebut, beliau memaafkan semua orang-orang tersebut.</p>
<p>Contoh yang lain adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang dianggap kafir dan difatwakan bahwa darahnya halal oleh para ulama pada zamannya. Beliau dimasukkan dari satu penjara ke penjara yang lain kemudian disiksa dari waktu ke waktu. Kemudian setelah beliau keluar dari penjara beberapa ahlu bid&#8217;ah dan orang-orang yang ingin membela beliau datang meminta maaf kepada beliau.</p>
<p>Salah satu musuh beliau adalah seorang ulama dari madzhab maliki dengan nama Ibnu Makhluf. Ibnu Makhluf wafat pada masa Ibnu Taimiyah. Salah satu Murid Ibnu Taimiyah yaitu Ibnu Qayyim mengetahui kematian Ibnu Makhluf. Kemudian Ibnu Qoyyim bersegera datang menemuai Ibnu Taimiyah menyampaikan kabar gembira ini. Akan tetapi, mari kita lihat reaksi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika melihat muridnya memberitahukan kematian musuh besarnya, kita lihat apakah beliau sujud syukur? Apakah beliau mengatakan &#8216;Alhamdulillah&#8217; maha suci Alloh Subhanallohu wa Ta’ala yang telah menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatannya&#8217;? Tidak seperti yang dilakukan oleh orang-orang sekarang, Syaikhul Islam dengan musuh besarnya yaitu Ibnu Makhluf ketika Ibnu Makhluf meninggal beliau tidak sujud syukur, tidak mengucapkan kalimat-kalimat yang menggambarkan kebenciannya. Tidak seperti  yang dilakukan oleh sebagian orang sekarang, begitu bencinya kepada seseorang sehingga ketika mendengar kematian seseorang yang dibencinya sampai mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang tidak layak diucapkan oleh seorang muslim.</p>
<p>Syaikhul Islam memarahi Ibnul Qoyyim kemudian mengingkari perbuatannya karena menyampaikan kegembiraan atas kematian musuh besar beliau, dan beliau mengucapkan kalimat istirja&#8217;, &#8220;<em>inna lillaahi wa inna ilaihi  raaji&#8217;un</em>&#8220;. Kemudian beliau langsung mendatangi rumah Ibnu Makhluf, berta&#8217;ziah dan kemudian mengatakan kepada keluarga, anak dan istri Ibnu Makhluf, &#8220;sesungguhnya sekarang status saya seperti bapak kalian&#8221;. &#8220;Tidak ada sesuatu pun yang kalian butuhkan melainkan saya akan berusaha memenuhi kebutuhan kalian.&#8221; Akhirnya mereka, keluarga Ibnu Makhluf, senang dan mereka mendoakan Syaikul Islam.</p>
<p>Ini kita lihat musuh besarnya. Dan kita lihat kalau sesorang itu musuh besar Ibnu Taimiyah pasti orang ini aqidahnya tidak benar. Tetapi ketika meningggal, Syaikhul Islam mendatangi rumahnya dan menyampaikan  bahwa mulai hari ini semua kebutuhan keluarganya menjadi tanggungan Syaikhul Islam. Siapa diantara kita yang bisa berbuat seperti ini? Siapa diantara kita yang bisa ketika musuhnya meninggal dia mendatangi keluarganya, mendatangi anak-anaknya kemudian berta&#8217;ziah kepada mereka? Siapa diantara kita yang bisa sampai mengatakan bahwa tidak ada kebutuhan yang kalian butuhkan melainkan saya akan memenuhi kebutuhan kalian? Siapa diantara kita yang bisa berbuat seperti itu? Hanya orang-orang yang berjiwa besar. Bahkan kalau kita mau jujur, tidak hanya itu, bahkan kepada teman dekat pun kita belum bisa berbuat seperti itu apalagi kepada musuh.</p>
<p><strong>Sekarang kalau kita mau jujur, jangankan musuh,  kepada teman kita saja tidak seperti itu. Ini bukti kalau ukhuwah kita jelek sekali. Kalau teman kita ada yang terkena musibah seperti itu, diantara kita siapa yang bisa berlaku dan berbuat seperti itu? Ada teman yang keluarganya meninggal, coba adakah  diantara kita yang datang kepada keluarganya dan mengatakan &#8216;saya akan memenuhi kebutuhan kalian.&#8217;</strong></p>
<p>Betul Syaikul Islam mendatangi orang yang telah menfatwakan tentang kafirnya Syaikhul Islam. Artinya ia sangat mememusuhi Syaikul Islam. Jika kita katakan dia ahli bid&#8217;ah, tentu sifat-sifat ini ada pada diri Ibnu Makhluf. Akan tetapi beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bersikap lebih besar dari itu artinya bukan orang yang berjiwa kerdil.</p>
<p>Ayyuhal Ikhwan, seandainya kita berakhlak dengan akhlak seperti ini tentu kita bisa banyak meraih hati orang. Tetapi kadang kita memperlakukan mereka (orang yang berbeda dengan kita atau orang yang menyakiti kita) dengan perlakuan sebagaimana ayat-ayat yang Alloh Subhanallohu wa Ta’ala tegaskan bahwa ini adalah ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafiqin. Tidak boleh kita Istigfar untuk mereka, tidak boleh kita menyolatkan mereka, tidak boleh kita menguburkan mereka. Hukum-hukum itu (tidak boleh memintakan ampun, menyolatkan, dan mendatangi penguburannya), kita terapkan kepada orang yang tadi kita sebutkan.</p>
<p>Kadang-kadang kita bermuamalah dengan sebagian kaum muslimin dengan muamalahnya sebagaimana disebutkan dalam al-Qur&#8217;an, muamalah dengan orang munafiqin. Artinya kita menjadi orang-orang yanag asyida&#8217; alal Mu&#8217;minin, &#8216;orang yang sangat kasar kepada orang mukmin.&#8217; Kita menjadi orang-orang yang sangat kasar kepada ahlu iman padahal Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em> mensifati orang-orang mukmin dan para shabat yang bersana Rasululloh<em> shallallâhu ‘alaihi wa sallam </em>dengan orang-orang yang Asyida&#8217; &#8216;alal kuffar, ruhamaa&#8217;u bainahum. Kita menjadi orang yang terbalik, kepada orang-orang yang beriman kasarnya luar biasa kemudian kepada orang-orang kafir tidak bersikap kasar.</p>
<p>Kita lihat bagaimana Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> yang sudah aklaknya mulia sekali masih Alloh<em> Subhanallohu wa Ta’ala </em> perintahkan untuk bersikap lembut. &#8220;Seandainya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu&#8221;</p>
<p>Ayat ini diturunkan kepada nabi Muhammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bukan kepada yang lain, artiya juga menjadi pelajaran bagi yang lain. Jika saja Rasul <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> berbuat kasar tentu   orang akan lari darinya apalagi bukan rasul. Yang Rasul ini banyak pendukungnya untuk kemudian diterima dakwahnya, beliau dapat wahyu, beliau ma&#8217;sum dan beliau memiliki akhlak yang mulia, beliau ini dan itu, itu saja masih kemudian diperintahkan untuk bersikap lemah lembut, sampai Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala </em>sampaikan firmanNya yang arinya: <em>&#8220;Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu, karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (urusan peperangan dan hal duniawiah yang lain). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekat, maka bertawakallah kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala </em>(QS. Al Imran:159).</p>
<p>Sekarang mari kita lihat lagi contoh yang ketiga yakni dari Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>, ketika berhubungan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul. Abdullah bin Ubay ini adalah tokohnya kaum munafiqin di masa Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>. Semua orang tahu bahwa Abdullah bin Ubay ini adalah ra&#8217;sul munafiqin, imamnya orang-orang munafiq, bagaimana sikapnya terhadap Islam, ketika dalam perang Muraysi&#8217; dia mengatakan &#8220;perumpamaan kita dengan Muhammad dan para shahabatnya adalah seperti kata pepatah <strong> &#8216;سَمِّنْ كَلْبُكَ يَأْكُلُكَ</strong>&#8216; &#8220;beri makan terus anjingmu, nanti kalau sudah besar akan memakanmu.&#8221; Artinya ketika Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> dan para shabatnya kita berikan kesempatan mereka akan menindas kita. Ini kata Abdullah bin Ubay dan orang-orang muanafiq yang bersamanya. Kemudian dia juga mengatakan &#8220;jangan kalian infakkan apa yang ada ditangan kalian kepada orang-orang yang bersama Muhammad supaya mereka menjauh dari Muhammmad.&#8221; Ini perkataan Abdullah bin Ubay, dan ini hanya sebagian dari sikap mereka kepada Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> dan para shahabatnya, agar mereka jangan diberikan apapun dan agar mereka keluar dari Madinah.</p>
<p>Coba kita perhatikan ketika Abdullah bin Ubay ini meninggal apa yang dilakukan Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>? Beliau mendatangi kuburnya, memberikan pakaian beliau kepada putranya, dan kemudian memberikan kain untuk dijadikan kafan untuk Abdullah bin Ubay. Ini ra&#8217;sul munafiqin, imamnya orang-orang munafiq, jelas-jelas orang munafiq, bahkan dengan nash, Rasulullah datang ke kuburnya. Kemudian kita lihat ini bukan orang munafiq biasa tapi ra&#8217;sul munafiqin, tetapi dia masih diberikan kain kafan, didatangi kuburnya dan Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> memintakan ampun kepada Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em>. Coba bayangkan, beliau mendatangi kuburnya dan memintakan ampun kepada Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em>, memintakan ampun kepada Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em> untuk imamnya orang-orang munafiq, sampai turun firman Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em> yang melarang Rasul <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> untuk memintakan ampun. Artinya kita lihat kemuliaan jiwa Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> untuk memintakan ampun kepada orang yang selama ini menyakiti beliau. Kalau sendainya itu terjadi pada kita mungkin kita akan kemudian mengatakan &#8220;mampus, biar sekalian mati&#8221;, akan tetapi beliau memintakan ampun, baru setelah turun larangan memintakan ampun untuk orang-orang munafiq dan orang kafir, yang artinya:&#8221;<em>Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Alloh Subhanallohu wa Ta’ala sekali-kali tidak akan merberi ampun kepada mereka&#8221;</em> (QS. At taubah:80).</p>
<p>Berkenaan dengan ayat ini beliau bersabda yang artinya, &#8220;Seandainya saya tahu kalau seandainya saya beristighfar lebih dari tujuh puluh kali akan diampuni, saya akan melakukan lebih dari tujuh puluh kali&#8221; atau sebagaiman sabda beliau <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>. Ini kepada imamnya orang-orang munafiq, seandainya beliau memintakan ampun libih dari tujuh puluh kali akan diampuni, niscaya beliau akan melakukannya. Kita lihat akhlak Nabi Muhammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>  terhadap imamnya orang-orang munafiq, kepada orang yang sudah lama sekali mengganggu dan menyusahkan Rasululloh<em> shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> serta orang-orang yang bersama beliau. Orang inilah yang telah membuat tuduhan palsu kepada &#8216;Aisyah <em>radhiAllohu &#8216;Anha</em>, dia juga yang menuduh kehormatan Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Coba kita lihat pada orang yang seperti ini beliau masih mau mendatangi kuburnya, kemudian memberikan kain kafan kemudian memintakan ampun kepada Alloh<em> Subhanallohu wa Ta’ala</em>. Siapa diantara kita yang bisa berjiwa besar seperti ini?</p>
<p>Tapi juga jangan difahami bahwa kita ingin mengaburkan aqidah  wala&#8217; wal bara&#8217; seperti yang telah kita sebutkan di depan. Artinya harus difahami aqidah wala&#8217; wal bara&#8217;, mana yang dinamakan aqidah wala&#8217; wal bara&#8217;, bagaimana sikap Rasululloh<em> shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> dan para pendahulu umat yang sholeh berkaitan dengan orang-orang yang berbeda atau menyimpang. Harus dibedakan antara wala&#8217; dan bara&#8217; dengan hawa nafsu kita. Al wala&#8217; wal bara&#8217; jalas ada dalam hati kita. Sikap terhadap orang, kemudian hawa nafsu kita juga sesuatu yang lain adalah dua hal yang harus dibedakan.</p>
<p>Dai tidak pantas memiliki sifat-sifat seperti ini. Kalau dai seperti ini, merusaknya lebih besar daripada memberi manfaat. Mendoakan kejelekan pada Si fulan pada sepertiga malam terakhir, kemudian melaknat Fulan, kemudian mencaci maki Fulan kemudian menyatakan bahwa Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em> tidak mungkin memberikan ampun kepadanya. Orang yang seperti ini lebih pantas memperbaiki dirinya sendiri, baru memperbaiki orang lain. Karena bisa jadi merusaknya lebih besar daripada memberikan kemaslahatan bagi orang lain. Karena dia sendiri belum berhasil memperbaiki dirinya, memperbaiki jiwanya sehingga ketika dia memperbaiki orang lain tentu akan lebih susah. Artinya berurusan dan bermasalah dengan Si Fulan kemudian bermusuhan dengan orang lain dan seterusnya.</p>
<p>Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sakit menjelang wafatnya, dan sakitnya ini bukan dirumah sakit tetapi sakitnya di penjara, beliau dilarang melakukan semua aktivitas sampai kemudian tidak diberikan pena untuk menulis, dilarang diberikan pena, walau demikian beliau tetap menulis memberikan fatwa kepada kaum muslimin dengan mengunakan arang sampai akhirnya beliau dilarang untuk menulis, segala aktivitasnya diawasi dan disampaikan oleh ahlu bid&#8217;ah kepada penguasa.</p>
<p>Suatu ketika sebagian orang yang menjadi ahlu bid&#8217;ah ini mendatangi Syaikhul Islam di dalam penjara kemudian meminta maaf kepada Syaikhul Islam, karena mereka menjadi sebab Syaikul Islam masuk penjara. Kita lihat bagaimana beliau berjiwa besar, beliau mengatakan &#8220;إِنِّي أَحْلَلْتُكَ  &#8221; &#8216;saya telah maafkan Anda, saya juga sudah memaafkan Raja Nashir yang memenjarakan saya.&#8217; Beliau memaafkan orang yang memasukkan beliau ke penjara, orang-orang yang menjadi sebab beliau masuk penjara beliau maafkan semua.</p>
<p>Kisah yang lain yang menceritakan tentang Syaikhul Islam adalah ketika Raja An-Nashir tadi pemerintahannya berhasil digulingkan oleh Raja Al Mudhaffar. Ulama ulama yang tadinya bersama Raja Nashir ini bergabung dengan Raja Al Mudhaffar. Kita lihat bagaimana orang-orang yang cari keuntungan, cari selamat, kemudian bergabung bersama Raja Al Mudhaffar. Ternyata tidak beberapa lama kemudian Raja Nashir berhasil merebut kembali kekuasaannya. Ulama-ulama yang tadi, para Qodhi dan para Fuqaha tadi dihadapkan kepada raja Nashir.</p>
<p>Bisa dibayangkan tadinya membela sekarang menjadi musuh, sekarang begitu berkuasa lagi dipanggail semua, dihadapkan kehadapannya. Wallahu A&#8217;lam</p>
<p><strong>Ditulis dan Dikontribusikan oleh Al-Akh Suparlin Abdurrahman</strong>
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/63/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/63/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=63&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/kisah-nyata-orang-yang-memiliki-jiwa-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Orang Yang Memiliki Jiwa Besar</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/orang-yang-memiliki-jiwa-besar/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/orang-yang-memiliki-jiwa-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2007 09:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/orang-yang-memiliki-jiwa-besar/</guid>
		<description><![CDATA[Akhlaaqul kibar (orang yang memiliki jiwa yang besar), mereka itulah orang-orang yang berakhlak dengan akhlak yang tinggi, mereka meninggalkan akhlak-akhlak yang rendah serta perkara-perkara yang hina. Termasuk disini adalah semuanya, baik itu dari kalangan ulama, du&#8217;at dan kaum muslimin pada umumnya. Yang dimaksud akhlaaqul kibar disini adalah orang yang berjiwa besar, bukan orang yang berjiwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=62&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"> Akhlaaqul kibar (orang yang memiliki jiwa yang besar), mereka itulah orang-orang yang berakhlak dengan akhlak yang tinggi, mereka meninggalkan akhlak-akhlak yang rendah serta perkara-perkara yang hina. Termasuk disini adalah semuanya, baik itu dari kalangan ulama, du&#8217;at dan kaum muslimin pada umumnya.</p>
<p><strong>Yang dimaksud akhlaaqul kibar disini adalah orang yang berjiwa besar, bukan orang yang berjiwa kerdil yang jika dipuji dia senang dan apabila dicela dia marah, memutuskan hubungan dengan orang hanya karena tidak senang, tersinggung, hanya karena jengkel atau marah.</strong> Atau menjalin silaturahmi hanya karena senang dengan orang-orang tertentu  kemudian memutuskan hubungan  silatuhrahmi hanya karena tidak senang dengan orang tertentu dan karena sebab-sebab tertentu pula. Orang yang berakhlak kibar adalah orang yang tidak memusuhi hanya karena orang tersebut mengkritik atau mengejek dirinya.<span id="more-62"></span><font color="#000000"> </font></p>
<p align="justify">Orang yang berakhlak kibar bukan pula berarti orang yang memiliki jabatan-jabatan yang tinggi. Dalam bahasa Arab <strong>اْلكَبَارُ </strong>bisa berarti tua dan bisa berarti besar jabatannya. Jadi orang yang berjiwa besar adalah orang yang ketika menyikapi sesuatu untuk kepentingan yang besar, untuk kemaslahatan Islam dan kaum muslimin, bukan untuk kepentingan dirinya. Orang-orang yang seperti inilah yang lebih pantas kita sebut-sebut dan kita sebarkan kisah-kisah mereka untuk menjadi pelajaran bagi kita.</p>
<p>Kita sangat perlu dengan materi seperti ini karena masalahnya yang begitu penting. Kita melihat berapa banyak khitbah yang dibatalkan, berapa banyak hubungan kecintaan yang dulunya terjalin berubah menjadi permusuhan, berapa banyak hubungan kerjasama dalam urusan duniawi maupun ukhrowi (dakwah) bubar hanya karena orang-orang yang berjiwa kerdil. Dia tidak rela apabila ada atau muncul kekurangan dari orang lain terhadap dirinya. Dan apabila hal itu terjadi, maka hubungan itu langsung putus, tidak lagi mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah diperoleh, tidak mengingat lagi kebersamaan yang pernah dijalin beberpa waktu yang lalu. Semua itu berubah menjadi permusuhan dan kebencian yang disebabkan adanya kesalahan dan kekurangan yang muncul dari orang lain terhadap dirinya. Kemudian dia menjadi orang yang mudah membenci, orang yang mudah mencela,  orang yang berbuat hal-hal kurang pada dirinya. Semua perbuatan diukur dengan timbangan hawa nafsunya yang apabila menyenangkan dirinya, ia senangi dan apabila menjengkelkan, dia benci. Sikap seperti ini muncul karena ada orang-orang yang lebih memilih pada asal penciptaannya yaitu tanah. Manusia diciptakan dari dua unsur yaitu unsur tanah dan unsur ruh.</p>
<p>Kita tahu bahwa tanah berada dibawah. Orang-orang yang berjiwa kerdil mengukur segala sesuatu dengan hal-hal yang hina dan itu kembali ke asal penciptaanya yaitu tanah, dia berakhlak dengan akhlak yang rendah, akhlak yang hina.</p>
<p>Berbeda dengan orang-orang yang mulia, dia selalu mengukur sesuatu dengan hal-hal yang tinggi  dan mulia. Itulah sifat yang kedua dari penciptaan manusia  yaitu ruh.</p>
<p>Orang yang berjiwa besar adalah orang-orang yang selalu berusaha melepaskan ikatan-ikatan yang melingkupi jiwanya, tidak melihat semua dengan ukuran hawa nafsunya. Ketika dia bisa melewati ikatan-ikatan tersebut, maka dia masuk pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu orang yang bisa melepaskan semua keinginan hawa nafsunya. Dia bisa berhubungan dengan orang, siap menerima kesalahan, kekurangan, dan kelemahan yang muncul dari orang lain. Orang yang ingin mencapai derajat yang tinggi tidak mungkin dapat mencapainya tanpa jiwa seperti ini dan berakhlak sebagaimana telah disebutkan.</p>
<p>Ketika kita berbicara tentang tema ini, kita tidak membicarakannya untuk orang lain, melaikan pertama untuk diri saya pribadi dan kedua para hadirin semua. Artinya jangan sampai ketika kita membicarakan hal ini kita berpikir &#8220;ini untuk Si Fulan yang akhlaknya masih kurang, ini untuk Si Filan yang memang akhlaknya tidak seperti ini&#8221;. Jangan kita bayangkan ketika kita berbicara tentang ini, pembicaraan ini ditujujukan pada orang-orang tertentu, tetapi yang perlu kita lakukan adalah menghadirkan diri kita, hati kita untuk memperhatikan materi ini.</p>
<p>Jadilah orang yang berfikir, orang yang hadir dengan hatinya dan kemudian datang untuk istifadah. Perbaharuilah hidupmu, dan tingkatkanlah akhlakmu, kemudian berubahlah.  Kemudian pulang dari tempat ini dengan wajah yang berubah dengan suasana yang berubah dengan akhlak yang berubah.</p>
<p>Materi ini ditujukan kepada semua kalangan baik ulama, du&#8217;at, thulabul ilmi dan orang-orang yang punya jabatan, baik jabatan yang tinggi maupun rendah. Juga ditujukan kepada pra bapak, ibu kemudian para pendidik dan para pengajar serta orang awam pada umumnya dan ditujukan kepada semua yang ingin mencari kesempurnaan.</p>
<p>Mungkin ada diantara kita yang tidak rela disifati dengan sifat yang kerdil, hidup dalam cara berfikir yang sempit, degan hati yang sempit, dan dengan jiwa yang sempit juga. Semua orang sepakat bahwa materi kajian ini adalah sesuatu yang baik, suatu yang terpuji dan suatu yang mulia dan semua jiwa pasti merindukannya.</p>
<p>Seandainya dakwah Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> dakwahnya hanya bertujuan pada akhlak saja tentu orang-orang akan mengikuti dakwahnya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahulloh</em>, &#8220;Kalaulah dakwah ini hanya tertuju pada akhlak, sebagaimana Rasululloh <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> kalau dakwahnya hanya tertuju pada akhlak, tanpa membahas kemusyrikan, tauhid, tentu orang-orang akan mengikuti dakwahnya&#8221;.</p>
<p>Semuanya sepakat dalam teori, baru dalam prakteknya kelihatan sendiri. Semua orang bisa bicara tentang akhlak yang baik, tapi dalam prakteknya akan terlihat aslinya.</p>
<p>Yang penting bukannya orang menganggap baik, kemudian orang senang mendengarkan akhlak yang baik, tapi yang paling penting adalah perubahan dan ada akhlak yang berubah.</p>
<p>Orang yang halus atau orang yang lembut bukanlah orang yang lembut hanya saat senang, tapi juga pada saat marah dia dapat bersifat lembut. Yang namanya akhlak bukan hanya kita dapat tersenyum kepada saudara kita pada saat bersama teman-teman kita, bersama orang-orang yang duduk di majlis bersama kita, tetapi akhlak adalah yang dapat kita bawa dalam setiap keadaan dan pada setiap tempat.</p>
<p>Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em> mensifati Dzat-Nya dengan sifat<strong> العفو al &#8216;afuu</strong> (Yang Maha Mengampuni). Sifat ini adalah salah satu sifat yang sangat agung dan mulia. Maksud sifat Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em><strong> العفو al &#8216;afuu</strong> adalah Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em> membiarkan hamba-Nya, mengampuni hamba-Nya yang berbuat kesalahan dan tidak memberikan adzab kepada hamba-Nya secara langsung ketika hamba-Nya durhaka kepada-Nya. Kita memohon pada Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em> agar Dia menaungi kita semua dengan segala ampunan-Nya dan dengan segala kemurahannya.</p>
<p>Ketika kita mendengar beberapa sifat ini yang manjadi pertanyaan pada diri kita adalah apakah kita punya sifat-sifat ini? Atau kita termasuk orang yang ketika  melihat ini ternyata akhlak  tersebut banyak melekat dalam diri kita sehingga ketika kita berurusan dengan orang lain kita sampai bermusuhan dan kita membuat hitung-hitungan dengan mereka.</p>
<p>Banyak diantara kita yang masih rancu untuk mebedakan antara membela diri sendiri dan membela agama. <strong>Kadang-kadang dia balas dendam kepada orang lain akan tetapi dia mengatasnamakan agama, mengatasnamakan aqidah, mengatasnamakan keimanan, yang sebenarnya dia membela diri sendiri, dan untuk memuaskan hawa nafsunya, akan tetapi dia merasa membela Alloh <em>Tabaraka Wa Ta&#8217;ala</em>.</strong> Ada juga yang mengatasnamakan &#8216;izzah (kemuliaan jiwa). Mungkin dia mau menunjukkan bahwa orang mukmin  adalah orang yang memiliki &#8216;izzah, kerena sesungguhnya &#8216;izzah itu milik Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em>, milik rasul-Nya, dan milik orang-orang yang beriman. Namun, dalam prakteknya kadang-kadang dia membalas dendam dan tidak terima dengan semua ejekan atau semua yang menjatuhkan harga dirinya, yang sebenarnya bukan atas nama kemuliaan sebagai seorang mukmin tapi karena dia tidak rela namanya disinggung kemudian diejek oleh orang lain.</p>
<p>Banyak orang yang rancu atau mencampur adukkan antara dia mempertahankan dirinya sendiri atau hawa nafsunya, mempertahankan agama, kemuliaan sebagai seorang mukmin atau kemuliaan pribadinya. Sehingga apabila dia marah, apabila dia membalas, dia mengira bahwa ini dalam rangka  betul-betul mempertahankan jati dirinya sebagai seorang muslim. Padahal dia sebetulnya mempertahankan hawa nafsunya. Ia beralasan dengan firman Alloh <em>Azza  Wa Jalla</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.&#8221; </em>(QS.As-Syura: 39).</p>
<p>Padahal sudah ma&#8217;lum (diketahui) bahwa ayat ini dan ayat-ayat lain yang semisal dengannya menjelaskan tentang keutamaan sikap &#8216;afuu, sikap pemaaf kepada orang yang menyakiti dan merendahkan kita. Alloh <em>Subhanahu Wa Ta&#8217;ala</em> berfirman, yang artuinya: <em>&#8220;Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka orang-orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang amat setia&#8221;.</em>(QS. Fushilat: 34).</p>
<p>Akan tetapi, tiada yang sangup atau diberikan sifat tersebut kecuali orang-orang yang sabar. Alloh<em> Subhanahu Wa Ta&#8217;ala</em> berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar,  dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar&#8221;. </em>(QS. Fushilat:35).</p>
<p>Akan tetapi, kemudian datanglah syaitan mendorongnya untuk membela dirinya dan beranggapan jika dia tidak melakukan pembelaan ini dianggap lemah, manusia akan mencelanya dengan mengatakan &#8216;lemah&#8217; atau &#8216;kurang.&#8217;  Alloh <em>Subhanahu Wa Ta&#8217;ala</em> berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui&#8221;.</em>(QS. Fushilat:36).</p>
<p>Berapa banyak orang-orang yang lupa bahwa Alloh <em>Subhanallohu wa Ta’ala</em> mensifati diri-Nya dengan sifat ini serta memberikan pujian bagi orang-orang yang mau melakukannya. Wallahu A&#8217;lam (Bersambung ke Artikel <strong>Kisah Nyata Orang Yang Memiliki Jiwa Besar</strong>)</p>
<p><strong>Ditulis dan Dikontribusikan oleh Al-Akh Suparlin Abdurrahman</strong>
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/62/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/62/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=62&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/orang-yang-memiliki-jiwa-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adab &#8211; Adab Terhadap Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/adab-adab-terhadap-al-quran/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/adab-adab-terhadap-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2007 09:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/adab-adab-terhadap-al-quran/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap muslim harus meyakini kesucian Kalamulloh, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan). Al-Qur&#8217;anul Karim itu Kalamulloh yang di dalamnya tidak ada kebatilan. Al-Qur&#8217;an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=61&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="justify"> Setiap muslim harus meyakini kesucian <em>Kalamulloh</em>, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan). <strong>Al-Qur&#8217;anul Karim itu <em>Kalamulloh</em> yang di dalamnya tidak ada kebatilan</strong>. Al-Qur&#8217;an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh <em>Ta&#8217;ala</em>.<br />
<span id="more-61"></span>Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang Muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur&#8217;an. Sebagaimana sabda Nabi <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam, </em> yang artinya: <em>&#8220;Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur&#8217;an dan mengajarkannya.&#8221; </em>(HR. Bukhari).</p>
<p>Dalam riwayat Imam Muslim dijelaskan, yang artinya: <em>&#8220;Bacalah Al-Qur&#8217;an, sesungguhnya Al-Qur&#8217;an itu akan menjadi syafa&#8217;at di hari Qiyamat bagi yang membacanya (ahlinya).&#8221;</em><span style="font-size:11pt;font-family:'Times New Roman';"> (HR. Muslim).</span></p>
<p align="justify">Wajib bagi kita menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur&#8217;an dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Diwajibkan pula beradab dengannya dan berakhlaq terhadapnya. Untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur&#8217;an, di saat membaca Al-Qur&#8217;an seorang Muslim perlu memperhatikan adab-adab yang akan disampaikan pada tulisan berikut ini.</p>
<p>Agar membacanya dalam keadaan yang sempurna, suci dari najis, dan dengan duduk yang sopan dan tenang. Dalam membaca Al-Qur&#8217;an dianjurkan dalam keadaan suci. Namun apabila dia membaca dalam keadaan najis, <strong>diperbolehkan dengan Ijma&#8217; umat Islam</strong>. Imam Haromain berkata; orang yang membaca Al-Qur&#8217;an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama. (At-Tibyan, hal.58-59).</p>
<p>Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca. Rasulullah <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Siapa saja yang membaca Al-Qur&#8217;an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami&#8221;</em> (HR. Ahmad dan para penyusun Kitab-KitabSunan).</p>
<p>Dan sebagian kelompok dari generasi pertama membenci pengkhataman Al-Qur&#8217;an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an setiap satu minggu (7 hari). (<strong>Muttafaq Alaih</strong>). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas&#8217;ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit g, mereka mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an sekali dalam seminggu.</p>
<p>Di dalam sebuah ayat Al-Qur&#8217;an, Alloh <em>Ta&#8217;ala</em> menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hambaNya yang shalih, yang artinya: <em>&#8220;Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu&#8217;</em> (QS. Al-Isra&#8217;: 109).</p>
<p>Agar membaguskan suara di dalam membacanya, sebagaimana sabda Rasulullah <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em>, yang artinya: <em>&#8220;Hiasilah Al-Qur&#8217;an dengan suaramu&#8221;</em> (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim).</p>
<p>Di dalam hadits lain dijelaskan: <em>&#8220;Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur&#8217;an&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>Maksud hadits di atas, membaca Al-Qur&#8217;an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj huruf nya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah Tajwid.</p>
<p></strong>Membaca Al-Qur&#8217;an dimulai dengan Isti&#8217;adzah.Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Dan bila kamu akan membaca Al-Qur&#8217;an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk&#8221; </em>(QS. An-Nahl: 98).</p>
<p>Apabila ayat yang dibaca dimulai dari awal surat, setelah isti&#8217;adzah terus membaca Basmalah, dan apa bila tidak di awal surat cukup membaca isti&#8217;adzah. Khusus surat At-Taubah walaupun dibaca mulai awal surat tidak usah membaca Basmalah, cukup dengan membaca isti&#8217;adzah saja.</p>
<p>Membaca Al-Qur&#8217;an dengan berusaha mengetahui artinya dan memahami inti dari ayat yang dibaca dengan beberapa kandungan ilmu yang ada di dalam nya. Firman Alloh <em>Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur&#8217;an, ataukah hati    mereka terkunci? </em>(QS. Muhammad: 24).</p>
<p>Membaca Al-Qur&#8217;an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih atau dalam hati secara khusyu&#8217;. Rasulullah <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em><strong>&#8220;Orang yang terang-terangan (di tempat orang banyak) membaca Al-Qur&#8217;an, sama dengan orang yang terang-terangan dalam shadaqah&#8221; </strong></em>(HR. Tirmidzi, Nasa&#8217;i, dan Ahmad).</p>
<p>Dalam hadits lain dijelaskan, yang artinya: <em>&#8220;Ingatlah bahwasanya setiap hari dari kamu munajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh mengangkat suara atas yang lain di dalam membaca (Al-Qur&#8217;an)&#8221; </em>(HR. Abu Dawud, Nasa&#8217;i, Bai  haqi dan Hakim), ini hadits shahih dengan syarat Shaikhani (Bukhari-Muslim).</p>
<p>Jadi jangan sampai ibadah yang kita lakukan tersebut sia-sia karena kita tidak mengindahkan sunnah Rasulullah dalam melaksanakan ibadah membaca Al-Qur&#8217;an. <strong>Misalnya, dengan suara yang keras pada larut malam, yang akhirnya mengganggu orang yang istirahat dan orang yang shalat malam.</p>
<p></strong>Dengarkan bacaan Al-Qur&#8217;an. Jika ada yang membaca Al-Qur&#8217;an, maka dengarkanlah bacaannya itu dengan tenang, Alloh <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Dan tatkala dibacakan Al-Qur&#8217;an, maka dengar kanlah dan diamlah, semoga kamu diberi rahmat&#8221;</em> (QS. Al-A&#8217;raaf: 204).</p>
<p>Membaca Al-Qur&#8217;an dengan saling bergantian yang bertujuan untuk pendidikan atau mempelajari Al Qur&#8217;an. Yang mendengarkannya harus dengan khusyu&#8217; dan tenang. Rasulullah  bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam rumah-rumah Alloh, mereka membaca Al-Qur&#8217;an dan saling mempelajarinya kecuali akan turun atas mereka ketenangan, dan mereka diliputi oleh rahmat (Alloh), para malaikat menyertai mereka, dan Alloh membang-ga-banggakan mereka di kalangan (malaikat) yang ada di sisiNya.&#8221; </em>(HR. AbuDawud).</p>
<p>Setiap orang Islam wajib mengatur hidupnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur&#8217;an dan harus dipelihara kesucian dan kemuliaannya, serta dipelajari ayat-ayatnya, dipahami dan dilaksanakan sebagai konse kuensi kita beriman ke-pada Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Minhajul Muslim, Fiqih Sunnah, At-Tibyan Fi Adaabi Hamlatil Qur&#8217;an)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/61/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/61/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=61&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/adab-adab-terhadap-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Iri Dan Dengki&#8230;.., Kenali Kemudian Jauhi !!!</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/iri-dan-dengki-kenali-kemudian-jauhi/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/iri-dan-dengki-kenali-kemudian-jauhi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2007 09:28:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/iri-dan-dengki-kenali-kemudian-jauhi/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian manusia tidak mampu mengelakkan dirinya dari sifat iri dan dengki. Dengki kepada rekan yang baru naik jabatan, dengki kepada tetangga yang punya mobil mewah, dengki kepada saudara yang anaknya sarjana dan dengki kepada seorang ustadz yang memiliki murid yang pintar dan lain sebagainya. Dan sungguh tidak bisa dibayangkan, ketika abad globalisasi dan keterbukaan yang telah mulai membuka pintunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=60&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"> Sebagian manusia tidak mampu mengelakkan dirinya dari sifat iri dan dengki. Dengki kepada rekan yang baru naik jabatan, dengki kepada tetangga yang punya mobil mewah, dengki kepada saudara yang anaknya sarjana dan dengki kepada seorang ustadz yang memiliki murid yang pintar dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Dan sungguh tidak bisa dibayangkan, ketika abad globalisasi dan keterbukaan yang telah mulai membuka pintunya akan semakin memberikan peluang untuk membuka &#8216;kran hati&#8217; untuk saling mendengki. Karena ukuran globalisasi identik dengan materi. Orang pun semakin tak bisa mengendalikan hati.</strong><span id="more-60"></span></p>
<p align="justify">Rasa dengki dan iri baru tumbuh manakala orang lain menerima nikmat. Biasanya jika seseorang mendapatkan nikmat, maka akan ada dua sikap pada manusia. Pertama, ia benci terhadap nikmat yang diterima kawannya dan senang bila nikmat itu hilang daripadanya. Sikap inilah yang disebut hasud, dengki dan iri hati. Kedua, ia tidak menginginkan nikmat itu hilang dari kawannya, tapi ia berusaha keras bagaimana mendapatkan nikmat semacam itu. Sikap kedua ini dinamakan <em>ghibthah </em>(keinginan). Yang pertama itulah yang dilarang sedang yang kedua diperbolehkan.</p>
<p><strong>Beberapa Kisah Al Qur&#8217;an tentang Orang-orang yang Dengki</p>
<p></strong>Dalam bahasa sarkasme, orang pendengki adalah orang yang senang melihat orang lain dilanda bencana, dan itu disebut <em>syamatah</em>.<em> Syamatah</em> dengan hasad selalu berkait dan berkelindan. Dari sini kita tahu, betapa jahat seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>menggambarkan sikap dengki ini dalam firmanNya, yang artinya: <em>&#8220;Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.&#8221;</em> (QS. Ali Imran: 120)</p>
<p>Dengki juga merupakan sikap orang-orang ahli Kitab. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Kebanyakan orang-orang ahli Kitab menginginkan supaya mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, disebabkan karena kedengkian (hasad) yang ada dalam jiwa mereka.&#8221; </em>(QS. Al Baqarah: 109)</p>
<p>Kedengkian saudara-saudara Yusuf kepada dirinya mengakibatkan sebagian dari mereka ingin menghabisi nyawa saudaranya sendiri, Yusuf <em>&#8216;Alaihis Salam</em>. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>mengisahkan dalam firmanNya, yang artinya: &#8220;<em>(Yaitu) ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah ia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.&#8221; </em>(QS. Yusuf: 8 &#8211; 9)</p>
<p>Terhadap orang-orang pendengki tersebut Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dengan keras mencela: <em>&#8220;Apakah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah berikan kepadanya?&#8221;</em> (QS. An Nisaa&#8217;: 54)</p>
<p><strong>Sebab-sebab Dengki</p>
<p></strong>Rasa dengki pada dasarnya tidak timbul kecuali karena kecintaan kepada dunia. Dan dengki biasanya banyak terjadi di antara orang-orang terdekat; antar keluarga, antarteman sejawat, antar tetangga dan orang-orang yang berde-katan lainnya. Sebab rasa dengki itu timbul karena saling berebut pada satu tujuan. Dan itu tak akan terjadi pada orang-orang yang saling berjauhan, karena pada keduanya tidak ada ikatan sama sekali.</p>
<p>Adapun orang yang mencintai akhirat, yang mencintai untuk mengetahui Allah, malaikat-malaikat, nabi-nabi dan kerajaanNya di langit maupun di bumi maka mereka tidak akan dengki kepada orang yang mengetahui hal yang sama. Bahkan sebaliknya, mereka malah mencintai bahkan bergembira terhadap orang-orang yang mengetahuiNya. Karena maksud mereka adalah mengetahui Allah dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisiNya. Dan karena itu, tidak ada kedengkian di antara mereka.</p>
<p>Kecintaan kepada dunia yang mengakibatkan dengki antarsesama disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya karena permusuhan. Ini adalah penyebab kedengkian yang paling parah. Ia tidak suka orang lain menerima nikmat, karena dia adalah musuhnya. Diusahakanlah agar jangan ada kebajikan pada orang tersebut. Bila musuhnya itu mendapat nikmat, hatinya menjadi sakit karena bertentangan dengan tujuannya. Permusuhan itu tidak saja terjadi antara orang yang sama kedudukannya, tetapi juga bisa terjadi antara atasan dan bawahannya. Sehingga sang bawahan misalnya, selalu berusaha menggoyang kekuasaan atasannya.</p>
<p>Sebab kedua adalah <em>ta&#8217;azzuz</em> (merasa paling mulia). Ia keberatan bila ada orang lain melebihi dirinya. Ia takut apabila koleganya mendapatkan kekuasaan, pengetahuan atau harta yang bisa mengungguli dirinya.</p>
<p>Sebab ketiga, takabbur atau sombong. Ia memandang remeh orang lain dan karena itu ia ingin agar dipatuhi dan diikuti perintahnya. Ia takut apabila orang lain memperoleh nikmat, berbalik dan tidak mau tunduk kepadanya. Termasuk dalam sebab ini adalah kedengkian orang-orang kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad <em>Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam </em>yang seorang anak yatim tapi kemudian dipilih Allah untuk menerima wahyuNya. Kedengkian mereka itu dilukiskan Allah <em>Ta&#8217;ala </em>dalam firmanNya, yang artinya: <em>&#8220;Dan mereka berkata: Mengapa Al Qur&#8217;an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?&#8221;</em> (QS. Az Zukhruf: 31) Maksudnya, orang-orang kafir Quraisy itu tidak keberatan mengikuti Muhammad, andai saja beliau itu keturunan orang besar, tidak dari anak yatim atau orang biasa.</p>
<p>Sebab keempat, merasa ta&#8217;ajub dan heran terhadap kehebatan dirinya. Hal ini sebagaimana yang biasa terjadi pada umat-umat terdahulu saat menerima dakwah dari rasul Allah. Mereka heran manusia yang sama dengan dirinya, bahkan yang lebih rendah kedudukan sosialnya, lalu menyandang pangkat kerasulan, karena itu mereka mendengki-nya dan berusaha menghilangkan pangkat kenabian tersebut sehingga mereka berkata: <em>&#8220;Adakah Allah mengutus manusia sebagai rasul?&#8221;</em> (QS. Al-Mu&#8217;minun: 34). Allah <em>Ta&#8217;ala </em>menjawab keheranan mereka dengan firmanNya, yang artinya: <em>&#8220;Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu ?&#8221;</em> (QS. Al A&#8217;raaf: 63)</p>
<p>Sebab kelima, takut mendapat saingan. Bila seseorang menginginkan atau mencintai sesuatu maka ia khawatir kalau mendapat saingan dari orang lain, sehingga tidak terkabullah apa yang ia inginkan. Karena itu setiap kelebihan yang ada pada orang lain selalu ia tutup-tutupi. Bila tidak, dan persaingan terjadi secara sportif, ia takut kalau dirinya tersaingi dan kalah. Dalam hal ini bisa kita misalkan dengan apa yang terjadi antardua wanita yang memperebutkan seorang calon suami, atau sebaliknya. Atau sesama murid di hadapan gurunya, seorang alim dengan alim lainnya untuk mendapatkan pengikut yang lebih banyak dari lainnya, dan sebagainya.</p>
<p>Sebab keenam, ambisi memimpin (<em>hubbur riyasah</em>). Hubbur riyasah dengan hubbul jah (senang pangkat/kedudukan) adalah saling berkaitan. Ia tidak menoleh kepada kelemahan dirinya, seakan-akan dirinya tak ada tolok bandingnya. Jika ada orang di pojok dunia ingin menandingi-nya, tentu itu menyakitkan hatinya, ia akan mendengkinya dan menginginkan lebih baik orang itu mati saja, atau paling tidak hilang pengaruhnya.</p>
<p>Sebab ketujuh, kikir dalam hal kebaikan terhadap sesama hamba Allah. Ia gembira jika disampaikan khabar pada-nya bahwa si fulan tidak berhasil dalam usahanya. Sebaliknya ia merasa sedih jika diberitakan, si fulan berhasil mencapai kesuksesan yang dicarinya. Orang sema-cam ini senang bila orang lain terbelakang dari dirinya, seakan-akan orang lain itu mengambil dari milik dan simpanannya. Ia ingin meskipun nikmat itu tidak jatuh padanya, agar ia tidak jatuh pada orang lain. Ia tidak saja kikir dengan hartanya sendiri, tetapi kikir dengan harta orang lain. Ia tidak rela Allah memberi nikmat kepada orang lain. Dan inilah sebab kedengkian yang banyak terjadi.</p>
<p><strong>Terapi Mengobati Dengki</strong></p>
<p>Hasad atau dengki adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Dan hati tidak bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal. Ilmu tentang dengki yaitu hendaknya kita ketahui bahwa hasad itu sangat membahayakan kita, baik dalam hal agama maupun dunia. Dan bahwa kedengkian itu setitikpun tidak membahayakan orang yang didengki, baik dalam hal agama atau dunia, bahkan ia malah memetik manfaat darinya. Dan nikmat itu tidak akan hilang dari orang yang kita dengki hanya karena kedengkian kita. Bahkan seandainya ada orang yang tidak beriman kepada hari Kebangkitan, tentu lebih baik baginya meninggalkan sifat dengki daripada harus menanggung sakit hati yang berkepan-jangan dengan tiada manfaat sama sekali, apatah lagi jika kemudian siksa akhirat yang sangat pedih menanti?</p>
<p>Bahkan kemenangan itu ada pada orang yang didengki, baik untuk agama maupun dunia. Dalam hal agama, orang itu teraniaya oleh Anda, apalagi jika kedengkian itu tercermin dalam kata-kata, umpatan, penyebaran rahasia, kejelekan dan lain sebagainya. Dan balasan itu akan dijumpai di akhirat. Adapun kemenang-annya di dunia adalah musuhmu bergembira karena kesedihan dan kedengkianmu itu.</p>
<p>Adapun amal yang bermanfaat yaitu hendaknya kita melakukan apa yang merupakan lawan dari kedengkian. Misalnya, jika dalam jiwa kita ada iri hati kepada seseorang, hendaknya kita berusaha untuk memuji perbuatan baiknya, jika jiwa ingin sombong, hendaknya kita melawannya dengan rendah hati, jika dalam hati kita terbetik keinginan menahan nikmat pada orang lain maka hendaknya kita berdo&#8217;a agar nikmat itu ditambahkan. Dan hendaknya kita teladani perilaku orang-orang salaf yang bila mendengar ada orang iri padanya, maka mereka segera memberi hadiah kepada orang tersebut. Dan sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita renungkan kata-kata Ibnu Sirin: &#8220;Saya tidak pernah mendengki kepada seorangpun dalam urusan dunia, sebab jika dia penduduk Surga, maka bagaimana aku menghasudnya dalam urusan dunia sedangkan dia berjalan menuju Surga. Dan jika dia penduduk Neraka, bagaimana aku menghasud dalam urusan dunianya sementara dia sedang berjalan menuju ke Neraka.&#8221;</p>
<p>(Sumber Rujukan: Al Qur&#8217;an)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/60/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/60/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=60&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/iri-dan-dengki-kenali-kemudian-jauhi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Bertetangga Dalam Islam</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/tata-cara-bertetangga-dalam-islam/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/tata-cara-bertetangga-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2007 09:27:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/tata-cara-bertetangga-dalam-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang Muslim diajarkan oleh Syariat Islam yang sempurna ini untuk meyakini dan mengamalkan bahwa tetangga mempunyai hak-hak atas dirinya, dan etika-etika yang harus dijalankan seseorang terhadap tetangga mereka dengan sempurna, berdasarkan dalil-dalail berikut; Firman Allah Ta&#8217;ala: &#8220;Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat den tetangga yang jauh&#8221;  (An Nisa&#8217;:36) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=59&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"> Seorang Muslim diajarkan oleh <strong>Syariat Islam yang sempurna ini untuk meyakini dan mengamalkan bahwa tetangga mempunyai hak-hak atas dirinya,</strong> dan etika-etika yang harus dijalankan seseorang terhadap tetangga mereka dengan sempurna, berdasarkan dalil-dalail berikut; Firman Allah Ta&#8217;ala: <em>&#8220;Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat den tetangga yang jauh&#8221; </em> (An Nisa&#8217;:36)<br />
<span id="more-59"></span>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em>, &#8220;Jibril tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, hingga aku beranggapan bahwa ia akan mewarisi&#8221; ( Mutafaq Alaih) Sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam: </em><em>&#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah memuliakan </em>tetangganya.&#8221;(Mutafaq Alaih)</p>
<p align="justify">Etika terhadap tetangga adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>Tidak menyakitinya dengan ucapan atau perbuatan, karena sabda-sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> berikut:<br />
</strong><br />
Sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em>: <em>&#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari AKhir, maka janngan menyakiti tetangganya&#8221;</em> (Mutafaq Alaih)</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam: </em>&#8220;Demi Allah, tidak beriman. Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam , Siapakah orang yang tidak beriman, wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya&#8221; (Mutafaq Alaih)</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam: &#8220;Wanita tersebut masuk neraka&#8221;<br />
</em>Sabda di atas ditujukan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> kepada wanita yang konon berpuasa di siang hari dan qiyamul lail di malam hari, namun menyakiti tetangganya.</p>
<p><strong>Berbuat baik kepadanya dengan menolongnya jika ia meminta pertolongan, membantunya jika ia meminta bantuan, menjenguknya jika ia sakit, mengucapkan selamat kepadanya jika ia bahagia, menghiburnya jika ia mendapat musibah, membantunya jika ia membutuhkan, memulai ucapan salam untuknya,</strong> berkata kepadanya dengan lemah lembut, santun ketika berbicara dengan ayah tetangganya, membimbingnya kepada apa yang di dalamnya terdapat kebaikan agama dan dunianya, melindungi area tanahnya, memaafkan kesalahannya, tidak mengintip auratnya, tidak menyusahkannya dengan bangunan rumah atau jalannya, tidak menyakiti dengan air yang mengenainya, atau kotoran yang dibuang di depan rumahnya.</p>
<p>Itu semua perbuatan baik yang diperintahkan dalam firman Allah Ta&#8217;ala, Tetangga dekat dan tetangga yang jauh. (An Nisa:36)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Barangsipa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetanggany&#8221; </em> (Diriwayatkan Al-Bukhari)</p>
<p><strong>Bersikap dermawan dengan memberikan kebaikan kepadanya, karena sabda-sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam berikut:</p>
<p></strong>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam: &#8220;Hai wanita-wanita Muslimah, janganlah seorang tetangga meremehkan tetangganya yang lain, kendati hanya dengan ujung kuku kambing&#8221; </em>(Diriwayatkan Al Bukhari)</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> kepada Abu Dzar <em>Radhiyallahu &#8216;anhu: &#8220;Hai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah maka perbanyaklah airnya, kemudia berikan kepada tetanggamu&#8221; </em>(Diriwayatkan Al Bukhari)</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> bertanya kepada Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em>, Aku mempunyai dua tetangga, maka yang mana yang berhak akau beri hadiah? Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Kepada orang yang pintu rumahnya lebih dekat kepadamu&#8221;</em> (Mutafaq Alaih)</p>
<p><strong>Menghormati dan menghargainya dengan tidak melarangnya meletakkan kayu di temboknya, tidak menjual atau menyewakan apa saja yang menyatu dengan temboknya, dan tidak mendekat ke temboknya hingga ia bermusyawarah dengannya berdasarkan sabda-sabda Rasulullah<em> Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> berikut:<br />
</strong><br />
Sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam:</em> <em>&#8220;Salah seorang dari kalian jangan sekali-kali melarang tetangganya meletakkan kayu di dinding rumahnya&#8221;</em> (Mutafaq Alaih)</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam: &#8220;Barangsiapa mempunyai kebun bersama tetangga, atau mitra, maka ia tidak boleh menjualnya, hingga ia bermusyawarah dengannya&#8221; </em>(Mutafaq Alaih)</p>
<p>Ada dua manfaat yang kita dapatkan dari etika-etika di atas:</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Seorang muslim mengenal dirinya jika ia telah berbuat baik kepada tetangganya, atau berbuat yang tidak baik terhadap mereka, berdasarkan sabda Rasulullah<em> Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em>:<em> &#8220;Jika engkau mendengar mereka berkata bahwa engkau telah berbuat baik maka engkau memang telah berbuat baik, dan jika engkau mendengar mereka berkata bahwa engkau berbuat salah maka engkau memang telah berbuat salah&#8221;</em> (Diriwayatkan Al Hakim dan ai meng-shahih-kannya).</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Jika seorang Muslim diuji dengan tetangga yang brengsek, hendaklah ia bersabar, karena kesabarannya akan menjadi penyebab pembebasan dirinya dari gangguan tetangganya. Seseorang datang kepada Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> guna mengeluhkan sikap tetangganya, kemudian beliau bersabda kepadanya, Sabarlah! Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> bersabda untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, atau keempat kalinya kepada orang tersebut, Buanglah barangmu di jalan. Orang tersebut pun membuang barangnya di jalan. Akibatnya, orang-orang berjalan melewatinya sambil berkata,Apa yang terjadi denganmu? Orang tersebut berkata, Tetanggaku menyakitiku. Orang-orang pun mengutuk tetangga yang dimaksud orang tersebut hingga kemudian tetangga tersebut datang kepada orang tersebut dan berkata kepadanya, Kembalikan barangmu ke rumah, karena demi Allah, aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi. (Diriwayatkan Ahmad)</p>
<p>(Sumber Rujukan: <em>Minhajul Muslim</em>, Karya Abu Bakr Jabir Al-Jazairi)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=59&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/tata-cara-bertetangga-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ajaran Islam Dalam Memperlakukan Hewan</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/ajaran-islam-dalam-memperlakukan-hewan/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/ajaran-islam-dalam-memperlakukan-hewan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jul 2007 09:27:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/ajaran-islam-dalam-memperlakukan-hewan/</guid>
		<description><![CDATA[Mulianya Agama Islam yang merupakan Rahmat bagi sekalian alam, yang di dalamnya terdapat aturan-aturan yang lengkap dalam segala hal, termasuk dalam masalah yang berkaitan dengan hewan. Hewan adalah salah satu ciptaan Allah Ta&#8217;ala yang ikut mewarnai kehidupan dunia ini. Sebagai seorang  muslim, kita haruslah memperlakukan hewan-hewan tersebut sesuai dengan Syariat Islam. Sehingga terhindar dari segala jenis kemungkaran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=58&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"> Mulianya Agama Islam yang merupakan Rahmat bagi sekalian alam, yang di dalamnya terdapat aturan-aturan yang lengkap dalam segala hal, termasuk dalam masalah yang berkaitan dengan hewan. Hewan adalah salah satu ciptaan Allah <em>Ta&#8217;ala</em> yang ikut mewarnai kehidupan dunia ini.</p>
<p>Sebagai seorang  muslim, kita haruslah memperlakukan hewan-hewan tersebut sesuai dengan Syariat Islam. Sehingga terhindar dari segala jenis kemungkaran yang mungkin akan timbul akibat tidak menjalankan syariat Islam.<br />
<span id="more-58"></span><strong>Sebagai umat muslim, kita  menganggap semua hewan sebagai makhluk yang harus dihormati. Oleh karena itu, kita  menyayanginya karena kasih sayang Allah <em>Ta&#8217;ala </em>kepadanya dan menerapkan etika-etika yang telah diberlakukan oleh Islam<em>.</em></strong></p>
<p align="justify"><strong>Etika-Etika Seorang Muslim Terhadap Hewan</strong></p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Memberinya makan-minum, jika hewan-hewan tersebut lapar dan haus, karena dalil-dalil berikut:<br />
Sabda Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam: &#8220;Terhadap yang mempunyai hati yang basah terdapat pahala&#8221;</em> (Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah).</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em>: <em>&#8220;Siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi&#8221;</em> (Muttafaq Alaih)</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em>: <em>&#8220;Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya kalian disayangi siapa saja yang ada di langit&#8221;</em> (Diriwayatkan Ath-Thabrani dan Al-Hakim)</li>
<li>
<p align="justify">Menyayanginya, dan berbelas kasih kepadanya, karena dalil-dalil berikut:<br />
Ketika Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> melihat orang-orang menjadikan burung sebagai sasaran anak panah, beliau bersabda: &#8220;<em>Allah melaknat siapa saja yang menjadikan sesuatu sebagai sasaran&#8221; </em>(Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> melarang menahan hewan untuk dibunuh dengan sabdaya: <em>&#8220;Barangsiapa yang menyakiti ini (burung) dengan anaknya; kembalikan anaknya padanya&#8221;</em> (Diriwayatkan Muslim)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam </em>bersabda seperti di atas, karena melihat burung terbang mencari anak-anaknya yang diambil salah seorang sahabat dari sarangnya.</li>
<li>
<p align="justify">Jika ia ingin menyembelihnya, atau membunuhnya, maka ia melakukannya dengan baik, karena Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala hal. Oleh karena itu, jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menenangkan hewan yang akan disembelihnya, dan menajamkan pisaunya&#8221;</em> (Diriwayatkan Muslim, At Tirmidzi, An-Nasai, Abu Daud, dan Ahmad)</li>
<li>
<p align="justify">Tidak menyiksanya dengan cara-cara penyiksan apa pun baik dengan cara melaparkannya, atau meletakkan padanya muatan yang tidak mampu ia angkut, atau membakarnya dengan api, karena dalil-dalil berikut:</p>
<p>Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam </em>bersabda: <em>&#8220;Seorang wanita masuk neraka karena kucing. Ia menahannya hingga mati. Ia masuk neraka karenanya, karena tidak memberinya makan sebab ia menahannya, dan tidak membiarkannya makan serangga-serangga tanah&#8221;</em> (Diriwayatkan Al-Bukhari)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> berjalan melewati rumah semut yang terbakar, kemudian beliau bersabda: <em>&#8220;Sesungguhnya siapa pun tidak pantas menyiksa dengan api, kecuali pemilik apai itu sendiri (Allah)&#8221;</em> (Diriwayatkan Abu Daud. Hadits ini shahih)</li>
<li>
<p align="justify">Diperbolehkan membunuh hewan-hewan yang membahayakan, seperti anjing penggigit, serigala, ular, kalajengking, tikus, dan lain sebagainya, karena dalil-dalil berikut:</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em>: <em>&#8220;Ada lima hewan membahayakan yang boleh dibunuh di tempat halal dan haram, yaitu ular, burung ggaak yang berwarna belang-belang, tikus, anjing yang suka menggigit, dan burung hudaya (sejenis rajawali)&#8221;</em> (Diriwayatkan Muslim)</p>
<p>Diriwayatkan, bahwa diperbolehkan membunuh burung gagak dan melaknatnya.</li>
<li>
<p align="justify">Diperbolehkan mencap telinga hewan untuk kemaslahatan, karena Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> mencap unta zakat dengan tangannya yang suci.</p>
<p>Sedang pemberian cap kepada selain unta, kambing, dan lembu, maka tidak diperbolehkan, karena Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> bersabda ketika melihat keledai dicap, <em>&#8220;Allah melaknat orang yang mencap keledai ini di wajahnya&#8221;</em> (Diriwayatkan Muslim)</li>
<li>
<p align="justify">Mengetahui hak Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dengan mengeluarkan zakat hewan tersebut, jika hewan tersebut termasuk hewan yang harus dizakati.</li>
<li>
<p align="justify">Sibuk dengannya tidak membuatnya lupa taat kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> dan lalai tidak dzikir kepada-Nya, karena dail-dalil berikut:</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman: <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah&#8221; </em>(Al Munafiqun:9)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallahu &#8216;Alaihi wa Sallam</em> bersabda tentang kuda: <em>&#8220;Kuda terbagi ke dalam tiga jenis, seseorang mendapatkan pahala (karenanya), seseorang mendapat pakaian (karenanya), dan seseorang mendapat dosa (karenanya). Adapun orang yang mendapat pahala karena kuda ialah orang yang mengikatnya di jalan Allah, dan memperpanjang talinya di tanah lapang, atau padang rumput. Maka apa saja yang terjadi pada kuda tersebut di tanah lapang atau padang rumput, maka orang tersebut mendapat kebaikan-kebaikan. Jika orang tersebut memutus talinya, kemudian kuda tersebut berjalan cepat satu langkah, atau dua langkah, maka jejak-jejaknya, kotoran-kotorannya adalah kebaikan-kebaikan baginya, serta kuda tersebut bagi orang tersebut adalah pahala. Orng sarunya mengikatnya kraena ingin memperkaya diri, namun ia tidak lupa hak Allah di leher, dna tulang punggung kudanya, mak akuda tersebut pakaian untuknya. Sedang orang satunya mengikatnya untuk sombong,riya&#8217;, dan permusuhan, maka kuda tersebut addalah dosa baginya&#8221;</em> (Diriwayatkan Al-Bukhari)</li>
</ol>
<p align="justify">Inilah sebagian etika yang diterapkan kaum Muslim terhadap hewan karena mentaati Allah Ta&#8217;ala dan Rasul-Nya, dan karena mnegamalkan perintah syariat Isalam yang notabene merupakan syariat rahmat, dna kebaikan universal bagi seluruh makhluk manusia atau hewan.</p>
<p>(Dikutip dari: Minhajul Muslim, Karya Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazari)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/58/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/58/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=58&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/06/ajaran-islam-dalam-memperlakukan-hewan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wahai Muslim!!! Sambutlah Hari-Hari mu</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/05/wahai-muslim-sambutlah-hari-hari-mu/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/05/wahai-muslim-sambutlah-hari-hari-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 07:23:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/05/wahai-muslim-sambutlah-hari-hari-mu/</guid>
		<description><![CDATA[Hari-harimu engkau lewati begitu saja, sesaat demi sesaat. Semua berlalu begitu cepatnya. Begitulah. Dirimu berpindah dari pagi ke petang, dan dari petang hingga pagi kembali. Apakah engkau pernah bermuhasabah (introspeksi) terhadap dirimu sendiri pada suatu hari? Sehingga engkau bisa melihat lembaran-lembaran harimu, dengan amal apa engkau membukanya dan dengan amal apa pula engkau menutupnya? Bakr [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=57&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"> Hari-harimu engkau lewati begitu saja, sesaat demi sesaat. Semua berlalu begitu cepatnya. Begitulah. Dirimu berpindah dari pagi ke petang, dan dari petang hingga pagi kembali. Apakah engkau pernah bermuhasabah (introspeksi) terhadap dirimu sendiri pada suatu hari? Sehingga engkau bisa melihat lembaran-lembaran harimu, dengan amal apa engkau membukanya dan dengan amal apa pula engkau menutupnya?<br />
<span id="more-57"></span>Bakr Al Muzni berkata, <strong>&#8220;Tidak ada satu haripun yang dikeluarkan oleh Allah ke dunia, kecuali berkata, `Wahai anak Adam, manfaatkanlah aku. Karena mungkin saja tidak ada hari lagi buatmu setelahku`</strong>. Dan tidaklah ada malam, kecuai berseru,`Wahai anak Adam, manfaatkanlah aku. Karena mungkin saja tidak ada malam lagi bagimu setelah aku`.&#8221;</p>
<p>Maka telah berapa banyak hari yang engkau lewati. Berapa banyak umur telah engkau lalui. Namun, teramat sedikit orang yang mau bermuhasabah terhadap dirinya. Dan sedikit sekali orang yang mau mengetuk jiwanya dengan cemeti muhasabah. Mereka menjalani hari-harinya dalam kelalaian dan panjang angan-angan yang tak ada faidahnya.</p>
<p align="justify">Ketika fajar menampakkan benang-benang cahayanya, engkau saksikan, kebanyakan manusia menyambut hari-harinya dengan niat yang tidak benar. Setelah berlalunya siang dan berganti malam, engkau bisa saksikan, mereka kembali ke peraduan mereka dengan niat seperti itu pula.</p>
<p>Saudaraku … muslim,<br />
Matahari senantiasa terbit dan tenggelam. Tetapi apakah engkau telah menghisab dirimu sendiri pada suatu hari? &#8220;Amal shalih apakah yang hendak kuperbuat ? Amal apakah yang akan aku hadirkan untuk hari ini?</p>
<p>Memang benar, umumnya manusia tidak pandai dalam mengatur hari-hari mereka. Padahal … dirimu wahai anak Adam, akan senantiasa dihitung dan ditulis pada hari-hari itu. <em>&#8220;Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata,&#8221;Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun.&#8221;</em> (QS Al Kahfi : 49).</p>
<p>Dan berfirman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan&#8221;</em> (QS Al Infithar : 10-12).</p>
<p><strong>Maka jiwa-jiwa akan dihisab, amal-amal akan ditulis. Dan seandainya orang yang lalai itu sadar, sungguh mereka akan memelihara diri dan menjaganya dari jalan kebinasaan. Namun sedikit sekali orang yang sadar, sedikit sekali orang yang memperhatikan jalan itu.</p>
<p></strong>Sebagian orang yang bijak berkata, &#8220;Jika seseorang memasuki waktu pagi, hendaklah ia berniat dengan empat perkara. Pertama, melaksanakan yang diperintahkan Allah. Kedua, menjauhi laranganNya. Ketiga, inshaf (berbuat adil) terhadap orang yang ada diantara mereka, dan dalam bermu`alamahnya. Keempat, ishlah (memperbaiki hubungan) antara ia dengan musuh-musuhnya. Apabila ia berada di atas niat ini, maka aku berharap ia termasuk orang yang shalih dan beruntung.&#8221;</p>
<p>Maka perhatikanlah wahai orang-orang yang berakal, hisablah dirimu ! Apakah engkau termasuk jenis ini? Jika ya, perbanyaklah pujian kepada Allah dan mohonlah tambahan fadhilah serta istiqamah di atas petunjukNya. Tetapi, jika engkau tidak termasuk jenis ini, kembalilah ke jalan itu sebelum waktunya lewat. Berlapanglah untuk memperbaiki dirimu, dan mintalah taufiq kepadaNya menuju jalan kebahagiaan.</p>
<p>Wahai orang yang lalai dari hari-harinya. Ketahuilah, bahwa dirimu tidak akan di campakkan! Wahai orang yang suka berbuat sia-sia, ketahuilah, dirimu akan dihitung tentang semua amalanmu! Tidak akan berlalu waktu pagi, kecuali ia mengajak dirimu menuju Rabbmu .</p>
<p>Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alahi wa sallam</em> bersabda,<em>&#8220;Tidaklah terbit matahari, kecuali diutus dua malaikat pada kedua sisinya. Keduanya memperdengarkan kepada penduduk bumi, kecuali tsaqalain (manusia dan jin), &#8220;Wahai sekalian manusia, marilah menuju kepada Rabb kalian. Sesungguhnya sedikit dan cukup lebih baik daripada banyak namun melalaikan.&#8221; Dan tidaklah matahari itu terbenam, kecuali diutus dua malaikat pada kedua sisinya. Mereka berkata,&#8221;Ya Allah percepatlah untuk orang yang berinfaq gantinya, dan percepatlah untuk orang yang bakhil kehancurannya&#8221;</em> (HR Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim; Shahih Targhib susunan Syaikh Al Albani ).</p>
<p>Sungguh kasihan bagi orang-orang yang telah berlalu hari-hari mereka dengan sia-sia, tidak berada dalam ketaatan kepada Allah . Terbitnya matahari di tengah hari-hari mereka, disambutnya dengan perbuatan maksiat. Ketika tenggelamnya ditutup pula dengan kemaksiatan. Ketahuilah ! Umurmu tidak lain hanyalah hari-harimu saja. Maka, ketika maut datang menjadi terputuslah hari-harimu.</p>
<p>Ingatlah kematian setiap pagi dan petang hari,<br />
Dan peliharalah waktumu yang teramat pendek<br />
Taruhlah engkau telah mendapatkan semua yanng di bumi<br />
Maka adakah setelah selain kematian ?</p>
<p>Daud At Thay berkata, &#8220;Sesungguhnya malam dan siang hanya marhalah-marhalah (tahapan). Manusia menempuhnya, marhalah demi marhalah. Sehingga hal seperti itu akan berhenti di akhir safar mereka. Jika engkau mampu mengetengahkan bekal pada setiap marhalah, maka kerjakanlah. Sesungguhnya terputusnya safar adalah suatu yang amat dekat. Dan urusan itu bisa lebih cepat. Maka, berbekallah untuk safarmu …</p>
<p>Saudaraku … muslim,<br />
Begitulah perkataan orang-orang shalih yang sadar terhadap hari-harinya. Mereka ingin sekali menghabiskan waktunya dalam ketaatan kepada Allah. Maka, sepatutnya bagi orang yang berakal untuk menghisab dirinya, mengarahkannya menuju jalan ketaatan untuk menyongsong hari-harinya yang baru.</p>
<p>Adapun thariqah (methode) muhasabah, sebagaimana dikatakan oleh Al Mawardi , &#8220;Hendaklah seseorang memperhatikan pada malam hari terhadap apa yang telah ia kerjakan pada siang harinya. Karena malam lebih bisa memberi peringatan dan lebih memunkinkan untuk konsentrasi. Seandainya perbuatannya itu terpuji, maka ia bisa menyetujui dan bisa mengikutinya lagi dengan hal-hal yang dapat menghiasinya. Sebaliknya, apabila perbuatannya tercela, ia bisa mengetahuinya dan bisa mengakhiri di masa mendatang.&#8221;</p>
<p>Saudaraku … muslim,<br />
Orang-orang shalih selalu bermuhasabah terhadap dirinya. Tidak akan terlewat waktu-waktu mereka dengan percuma. Tidak akan berlalu umur mereka, kecuali dalam ketaatan. Maka, jangan sampai engkau kecolongan wahai orang-orang yang berakal. Sesungguhnya hari-harimu itu dianggap sebagai ghanimah, maka seharus engkau mensyukurinya. Sebagaimana perkataan Sa`id bin Jubair , &#8220;Setiap hari yang dilalui oleh seorang mukmin adalah ghanimah.&#8221;</p>
<p>Memang benar, karena hal itu merupakan kesempatan untuk menambah kebaikan, menabung amal-amal shalih, serta merupakan kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah. Namun sedikit sekali orang yang memahami hal ini, dan mau memanfaatkan waktu-waktu mereka. Bahkan umumnya mereka menghabiskan umur dan hari-hari mereka dalam kelalaian dan kesia-siaan. Dunia berserta mimpi-mimpinya telah melalaikan mereka. Dan keindahan dunia, telah menghalangi mereka dari jalan petunjuk. Sementara itu, syetan terus memperpanjang khayalan-khayalan mereka. Allah berfirman:<em> &#8220;Syetan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka&#8221;</em> (QS. Muhammad : 25)</p>
<p>Hasan Al Bashri berkata, &#8220;Dia (syetan) menghiasi kesalahan dan memanjangkan angan-angan bagi mereka.&#8221;<br />
Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, &#8220;Yang akan terlahir karena banyaknya berangan-angan adalah kemalasan menjalankan ketaatan, menunda-nunda taubat, ambisi terhadap dunia, lupa akhirat, serta mengeraskan hati. Karena kelembutan dan kejernihan hati terbentuk hanyalah dengan mengingat kematian, alam kubur, pahala, dosa dan dahsyatnya hari kiamat.&#8221;</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang yang berakal akan menjadikan hari-harinya ladang untuk akhirat. Dia akan menanam, mengairi dan mengolahnya dengan amal-amal shalih, sehingga bisa memetik hasilnya di kemudian hari, yaitu pada saat manusia hanya mendapatkan kebaikan atau keburukan yang pernah ia kerjakan. Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alahi wa sallam</em>  bersabda, <em>&#8220;Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara. Masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, kayamu sebelum tiba masa fakirmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan hidupmu sebelum masa matimu&#8221;</em> (Riwayat Al Hakim, Shahih Thargib Al Albani, 3355).</p>
<p>Saudaraku muslim …<br />
Apa yang telah engkau persiapkan untuk suatu hari; yang engkau akan disendirikan di dalam kuburmu? Apakah dirimu termasuk orang-orang yang terlalaikan oleh angan-angan kosong, ataukah termasuk orang yang memperhatikan hari esok?</p>
<p>Sesungguhnya orang yang yang mendapatkan taufik ialah orang yang bisa memanfaatkan hari-harinya. Sedangkan orang yang benar-benar celaka ialah orang yang menyia-nyiakan hari-harinya. Adakah orang yang lebih celaka daripada orang yang diberikan panjang umur kemudian menghadap Rabbnya dengan membawa sedikit kebaikan ? maka sadarlah, hai orang-orang yang lalai.</p>
<p>Ketahuilah ! Bahwa dalam hari-harimu ada kesempatan. Maka, manfaatkanlah dan jangan engkau menunda-nunda kebaikan hingga hari esok.  Jika kemarin engkau berbuat dosa, maka, lipatgandakanlah kebaikan, niscaya engkau akan terpuji. Jika engkau manfaatkan hari-harimu, maka faidahnya akan kembali kepadamu.  Hari kemarin telah berlalu, tak mungkin akan kembali.  Janganlah engkau menunda-nunda kebaikan hingga esok. Mungkin hari esok akan hadir, namun engkau telah tiada</p>
<p>Wahai orang-orang yang menjadikan hari-harinya sebagai tunggangan syahwat belaka, sadarlah … dan ketahuilah! Bahwa umur meski terasa panjang, namun hari-harimu senantiasa menggerogoti dan tidak ada setelah itu, kecuali kematian. Maka bersegeralah bermuhasabah diri dan camkanlah!<br />
Sesungguhnya, dunia merupakan tempat tipuan. Tidaklah ada yang mempercayainya kecuali orang jahil dan lalai.</p>
<p>Maka jika memasuki waktu pagi, mulailah dengan berdzikir kepada Allah , sebagaimana diajarkan Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alahi wa sallam</em> :<em>&#8220;Segala puji bagi Allah yang telah membangunkan kami setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepadaNya kami kembali.&#8221;</em> (HR Bukhari).</p>
<p><strong>Songsonglah hari-harimu dengan niat yang benar, berazam (bertekad) berbuat taat, menjauhi maksiat dan tidak lupa meminta kepada Allah taufikNya menuju keridlaanNya.  Janganlah dirimu melupakan dzikir kepada Allah, dan janganlah ada hari yang berlalu tanpa dzikrullah.  Laksanakanlah perintah-perintah Allah yang telah diwajibkan kepadamu, terutama shalat lima waktu ketika muadzin memanggilmu.  Tahanlah sifat yang merugikan kaum muslimin. Berikanlah kasih-sayang kepada orang-orang lemah dan ajarilah orang yang tidak mengetahui.  Tersenyumlah di hadapan kaum muslimin. Karena itu merupakan shadaqah.  Jadikanlah dirimu sebagi orang yang suka memberi nasihat di hadapan muslimin, dan jangan melalaikan mereka.</p>
<p>Cintailah kebaikan pada kaum muslimin, sebagaimana engkau mencintai kebaikan untuk dirimu sendiri. Janganlah meremehkan amal kebaikan, meskipun hal itu remeh menurutmu. Janganlah engkau membiarkan berlalu satu kesempatan pun untuk bertaqarrub kepada Allah, kecuali engkau memanfaatkannya. Bersemangatlah memperbanyak mengintai kebaikan, sebagaimana engkau bersemangat mengintai harta dunia. Jauhilah tempat-tempat syubhat (merugikan), dan menjauhlah dengan membawa agamamu, sehingga engkau tidak akan terkoyak dengan syubhat itu. Jauhkanlah dirimu dari segala sesuatu yang bisa menyeretmu ke dalam kemaksiatan kepada Allah, atau yang dapat mendekatkan dirimu ke dalam maksiat. Berniatlah selalu untuk berbuat kebaikan dan menjauhi yang haram. Ketahuilah, bahwa di dalam niat berbuat baik terdapat balasan dan pahala.</p>
<p></strong>Saudaraku… … muslim,<br />
Sesungguhya pintu-pintu kebaikan teramat banyak, tak terhitung. Dan orang yang mendapat taufik ialah yang menjadikan hari-harinya sebagai hari-hari penuh kebahagiaan, berusaha dengan keras berbuat ketaatan dan kebaikan. Berbekallah wahai saudaraku, untuk hari akhiratmu! Janganlah masuk dalam lembaranmu, kecuali yang bisa membahagiakanmu kelak ketika engkau saksikan. Mulailah hari-harimu dengan kebaikan dan tutuplah dengan kebaikan juga.</p>
<p>Semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk para pembaca yang budiman. Dan semoga kita selalu mendapatkan taufik dan hidayah Allah . Amin.</p>
<p>(Dinukil dari: <em>kitab Kaifa Tastaqbilu Yaumaka</em>, Karya Syaikh Azhari Ahmad Mahmud)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/57/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/57/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=57&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/05/wahai-muslim-sambutlah-hari-hari-mu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengucapkan Salam dan Berjabat Tangan</title>
		<link>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/05/mengucapkan-salam-dan-berjabat-tangan/</link>
		<comments>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/05/mengucapkan-salam-dan-berjabat-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jul 2007 07:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>madah</dc:creator>
				<category><![CDATA[BerAdab]]></category>
		<category><![CDATA[BerAkhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[Dar Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Implementasi Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi Luhur]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/05/mengucapkan-salam-dan-berjabat-tangan/</guid>
		<description><![CDATA[Mengucapkan salam dan berjabat tangan kepada sesama Muslim adalah perkara yang terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka. Namun apa yang terjadi jika perbuatan terpuji ini dilakukan tidak pada tempat yang semestinya? Tidak ada kebaikan yang didapat bahkan pelanggaran syariatlah yang terjadi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=56&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"> Mengucapkan salam dan berjabat tangan kepada sesama Muslim adalah perkara yang terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka.<strong> Namun apa yang terjadi jika perbuatan terpuji ini dilakukan tidak pada tempat yang semestinya? Tidak ada kebaikan yang didapat bahkan pelanggaran syariatlah yang terjadi.<br />
</strong><span id="more-56"></span>Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam beliau bersabda :<em> “Apabila salah seorang dari kalian bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah salam padanya. (Kemudian) jika pohon, tembok, atau batu menghalangi keduanya dan kemudian bertemu lagi maka salamlah juga padanya.”</em> (HR. Abu Dawud dalam As Sunan nomor 5200 sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah.  Lihat Silsilah Al Ahadits As Shahihah nomor 186)<font size="2"><font face="Palatino Linotype"><font color="#000000"> </font></font></font></p>
<p align="justify"><strong>Pada hadits ini Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> memerintahkan seorang Muslim mengucapkan salam kepada saudaranya yang Muslim jika menjumpainya.</strong> Karena salam dapat menggalang persatuan, menghilangkan rasa benci, dan mendatangkan cinta. Perintah di dalam hadits ini bersifat istihbaab yang maknanya anjuran dan ajakan, bukan wajib (lihat dalil-dalil yang memalingkan dari hukum wajib ke hukum istihbaab dalam kitab Aqdu Az Zabarjad fi Tahiyyati Ummati Muhammad Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam).</p>
<p><strong>Tidak dibedakan dalam mengucapkan salam tersebut antara orang yang berada di dalam ataupun di luar masjid. Bahkan sunnah yang shahihah (terang) menunjukkan disyariatkannya mengucapkan salam kepada orang yang berada di dalam masjid baik ketika shalat ataupun tidak.</p>
<p></strong>Dari Ibnu Umar radliyallahu &#8216;anhu, dia berkata : <em>Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam keluar menuju Quba dan shalat di sana. Lalu datang orang-orang Anshar kemudian mereka mengucapkan salam kepadanya sedangkan beliau sedang shalat. Dia (Ibnu Umar) berkata : Lalu saya bertanya kepada Bilal : “Bagaimana kamu lihat Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam menjawab salam mereka ketika mereka mengucapkan salam kepadanya padahal dia sedang shalat?” Ibnu Umar berkata : Bilal berkata : “Begini, sambil membentangkan telapak tangannya.” Begitu pula Ja’far bin ‘Aun membentangkan tangannya dan menjadikan telapak tangannya di bawah sedangkan punggungnya di atas.”</em> (HR. Abu Dawud dalam As Sunan nomor 927 dan Ahmad dalam Al Musnad 2/30 dengan sanad shahih atas syarat Bukhari dan Muslim. Lihat Silsilah Al Ahadits As Shahihah nomor 185).</p>
<p>Dua Imam, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuwiyah berpegang pada hadits ini. Al Marwazi berkata : [ Saya bertanya kepada Ahmad : “Apakah salam diucapkan kepada kaum yang sedang shalat?” Dia menjawab : “Ya.” Lalu beliau menyebutkan kisah Bilal ketika ditanya oleh Ibnu Umar : “Bagaimana beliau menjawab (salam)?” Dia berkata : “Dia memberi isyarat.” Ishaq juga berkata sebagaimana yang dia katakan. ] (Masa’il Al Marwazi halaman 22).</p>
<p>Riwayat ini dipilih oleh Al Qadli Ibnul Arabi, dia berkata : “Isyarat dalam shalat bisa jadi untuk menjawab salam atau karena suatu perkara yang tiba-tiba terjadi saat shalat juga karena kebutuhan yang mendesak bagi orang shalat. Jika untuk menjawab salam maka dalam hal ini terdapat atsar-atsar shahih seperti perbuatan Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam di Quba dan selainnya. (Lihat ‘Aridlah Al Ahwadzi 2/162)</p>
<p>Dalil tentang disyariatkannya mengucapkan salam setelah shalat di masjid adalah hadits tentang orang yang jelek shalatnya, hadits yang terkenal (masyhur) dari Abu Hurairah : <em>&#8220;Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam masuk ke masjid. Lalu seseorang masuk dan shalat. Kemudian dia datang lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam. Maka Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam menjawab salamnya seraya berkata : “Kembalilah shalat karena sesungguhnya kamu belum shalat!” Maka orang itu kembali lalu shalat sebagaimana dia telah shalat sebelumnya. Kemudian dia datang kepada Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam. Hal itu dia lakukan tiga kali.&#8221;</em> (HR. Bukhari, Muslim, dan selainnya)</p>
<p>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata : “Dengan hadits ini, Shadiq Hasan Khan berdalil di dalam kitabnya Nuzul Al Abrar halaman 350-351 bahwa : “Jika seseorang diucapkan salam kepadanya kemudian dia mendatanginya dari dekat maka disunnahkan untuk mengucapkan salam untuk kedua dan ketiga kali padanya.”</p>
<p>Beliau juga berkata : “Hadits ini juga menjadi dalil disyariatkannya mengucapkan salam kepada orang di dalam masjid sebagaimana juga hadits tentang ucapan salam orang-orang Anshar kepada Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam di Masjid Quba sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Akan tetapi kita temukan orang-orang tidak menghiraukan sunnah ini. Salah seorang mereka masuk Masjid tanpa mengucapkan salam pada orang yang berada di dalamnya karena mereka mengira bahwa hal itu makruh. Semoga apa yang kami tulis menjadi peringatan bagi mereka dan selainnya. Sedangkan peringatan itu bemanfaat bagi orang-orang yang beriman.&#8221; (Silsilah Al Ahadits As Shahihah)</p>
<p><strong>Jadi salam dan berjabat tangan dilakukan ketika datang atau hendak berpisah walaupun hanya sebentar.</strong> Sama saja apakah di dalam Masjid atau di luar masjid. Akan tetapi sayang sekali, tatkala Anda mengucapkan salam kepada seseorang saat berjumpa dengan Anda setelah shalat dengan ucapan assalamu’alaikum warahmatullahi maka dengan segera dia menjawab taqabbalallah. Dia mengira telah menegakkan apa yang telah Allah wajibkan atasnya berupa kewajiban membalas salam, seolah-olah dia tidak mendengar firman Allah Ta’ala: <em>&#8220;Apabila kamu diberi penghormatan dengan salam penghormatan maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang sebanding. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.&#8221;</em> (QS. An Nisa’ : 86)</p>
<p>Dan sebagian mereka bersegera mengucapkan pada Anda sebagai ganti dari salam dengan ucapan taqabbalallah (semoga Allah menerima amal kita) padahal Allah telah berfirman: <em>&#8220;Salam penghormatan mereka pada hari mereka menemui-Nya ialah : &#8216;Salam&#8217; &#8220;</em> (QS. Al Ahzab : 44)</p>
<p>Nabi <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> bersabda: <em>&#8220;Sebarkanlah salam di antara kalian&#8221;</em> (HR. Muslim dalam Shahih-nya nomor 54 dan Ahmad dalam Al Musnad 2/391, 441, dan 495 serta yang selainnya)</p>
<p>Beliau tidak menyatakan : “Katakanlah Taqabbalallah !!” Kita tidak mengetahui dari salah seorang sahabat pun atau salafush shalih Radliyallahu &#8216;anhum bahwa apabila mereka selesai dari shalat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menjabat tangan orang di sekitarnya agar diberkahi sesudah shalat. Seandainya salah seorang dari mereka melakukan hal itu, sungguh akan dinukilkan bagi kita meskipun dengan sanad yang lemah dan ulama akan menyampaikan pada kita karena mereka terjun di semua lautan ilmu lalu menyelam pada bagian yang terdalam dan mengeluarkan hukum-hukum darinya. Mereka tidak mungkin menyepelekan sunnah Qauliyyah, Fi’liyyah, Taqririyyah atau Sifat (sabda, perbuatan, persetujuan atau sifat Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam). [ Tamamu Al Kalam fi Bid’ah Al Mushafahah Ba’da As Salam halaman 24-25 dan Al Masjid fi Al Islam halaman 225 ]</p>
<p><strong>Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin berkata : “Mayoritas orang yang shalat mengulurkan tangan mereka untuk berjabat tangan dengan orang di sampingnya setelah salam dari shalat fardlu dan mereka berdoa dengan ucapan mereka ‘taqabbalallah’. Perkara ini adalah bid’ah yang tidak pernah dinukil dari para pendahulu Islam” (Majalah Al Mujtama’ nomor 855).</p>
<p>Bagaimana mereka melakukan hal itu sedangkan para peneliti dari kalangan ulama telah menukil bahwa jabat tangan dengan tata cara tersebut (setelah salam dari shalat) adalah bid’ah?</p>
<p></strong>Al ‘Izzu bin Abdussalam berkata : “Jabat tangan setelah shalat Shubuh dan Ashar termasuk bid’ah kecuali bagi yang baru datang dan bertemu dengan orang yang menjabat tangannya sebelum shalat. Maka sesungguhnya jabat tangan disyaratkan tatkala datang. Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam berdzikir setelah shalat dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan dan beristighfar tiga kali kemudian berpaling. Diriwayatkan bahwa beliau berdzikir :</p>
<p>ﺭَﺏِّ ﻗِﻨِﻲ ﻋَﺬَﺍﺑَﻚَ ﻳَﻮْﻡَ ﺗَﺒﹿﻌَﺚُ ﻋِﺒَﺎﺩَﻙَ .﴿ ﺭﻭﺍﻩﻣﺴﻠﻢ ٦٢، ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ٣٣٩٨ ﻭ ٣٣٩٩، ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ٤/٢٩٠ ﴾<br />
<em>“Wahai Rabbku, jagalah saya dari adzab-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-Mu.”</em> (HR. Muslim 62, Tirmidzi 3398 dan 3399, dan Ahmad dalam Musnad 4/290)</p>
<p>Kebaikan seluruhnya adalah dalam mengikuti Rasul (Fatawa Al ‘Izzi bin Abdussalam halaman 46-47 dan lihat Al Majmu’ 3/488). Apabila bid’ah ini di masa penulis terbatas setelah shalat yang dua rakaat, maka sungguh di jaman kita ini hal itu telah terjadi pada seluruh shalat. Laa haula wala quwwata illa billah.</p>
<p><strong>Al Luknawi berkata: Sungguh telah tersebar dua perkara di masa kita ini pada mayoritas negeri, khususnya di negeri-negeri yang menjadi lahan subur berbagai bid’ah dan fitnah, yaitu:</strong></p>
<blockquote>
<p align="justify"><strong>[Pertama]</strong> Mereka tidak mengucapkan salam ketika masuk masjid waktu shalat Shubuh, bahkan mereka masuk dan shalat sunnah kemudian shalat fardlu. Lalu sebagian mereka mengucapkan salam atas sebagian yang lain setelah shalat dan seterusnya. Hal ini adalah perkara yang jelek karena sesungguhnya salam hanya disunnahkan tatkala bertemu sebagaimana telah ditetapkan dalam riwayat-riwayat yang shahih, bukan tatkala telah duduk.</p>
<p><strong>[Kedua]</strong> Mereka berjabat tangan setelah selesai shalat Shubuh, Ashar, dan dua hari raya, serta shalat Jum’at. Padahal pensyariatan jabat tangan juga hanya di saat awal bersua. ] (As Sa’ayah fi Al Kasyfi Amma fi Syarh Al Wiqayah halaman 264).</p></blockquote>
<p align="justify">Dari perkataan beliau dapat dipahami bahwa jabat tangan antara dua orang atau lebih yang belum bersua sebelumnya tidak ada masalah. Syaikh Al Albani berkata di dalam As Silsilah As Shahihah 1/23 : “Adapun jabat tangan setelah shalat adalah bid’ah yang tidak ada keraguan padanya, kecuali antara dua orang yang belum bersua sebelumnya. Maka hal itu adalah sunnah.”</p>
<p>Al Luknawi berkata setelah menyebutkan silang pendapat tentang jabat tangan setelah shalat : “Di antara yang melarang perbuatan itu ialah Ibnu Hajar Al Haitami As Syafi’i, Quthbuddin bin ‘Ala’addin Al Makki Al Hanafi, dan Al Fadlil Ar Rumi dalam Majalis Abrar menggolongkannya termasuk dari bid’ah yang jelek ketika beiau berkata : “Berjabat tangan adalah baik saat bertemu.</p>
<p>Adapun selain saat bertemu misalnya keadaan setelah shalat Jum’at dan dua hari raya sebagaimana kebiasaan di jaman kita adalah perbuatan tanpa landasan hadits dan dalil! Padahal telah diuraikan pada tempatnya bahwa tidak ada dalil berarti tertolak dan tidak boleh taklid padanya.” (Sumber yang sama dan Ad Dienul Al Khalish 4/314, Al Madkhal 2/84, dan As Sunan wa Al Mubtada’at halaman 72 dan 87).</p>
<p>Beliau juga berkata : “Sesungguhnya ahli fiqih dari kelompok Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Malikiyah menyatakan dengan tegas tentang makruh dan bid’ahnya.” Beliau berkata dalam Al Multaqath : “Makruh (tidak disukai) jabat tangan setelah shalat dalam segala hal karena shahabat tidak saling berjabat tangan setelah shalat dan bahwasanya perbuatan itu termasuk kebiasaan-kebiasaan Rafidlah.” Ibnu Hajar, seorang ulama Syafi’iyah berkata : “Apa yang dikerjakan oleh manusia berupa jabat tangan setelah shalat lima waktu adalah perkara yang dibenci, tidak ada asalanya dalam syariat.”</p>
<p>Dan alangkah fasihnya perkataan beliau <em>Rahimahullah Ta’ala</em> dari ijtihad dan ikhtiarnya. Beliau berkata: Pendapat saya, sesungguhnya mereka telah sepakat bahwa jabat tangan (setelah shalat) ini tidak ada asalnya dari syariat. Kemudian mereka berselisih tentang makruh atau mubah. Suatu masalah yang berputar antara makruh dan mubah harus difatwakan untuk melarangnya, karena menolak mudlarat lebih utama daripada menarik maslahah.</p>
<p>Lalu kenapa dilakukan padahal tidak ada keutamaan mengerjakan perkara yang mubah? Sementara orang-orang yang melakukannya di jaman kita menganggapnya sebagai perkara yang baik, menjelek-jelekkan dengan sangat orang yang melarangnya, dan mereka terus-menerus dalam perkara itu.</p>
<p>Padahal terus-menerus dalam perkara mandub (sunnah) jika berlebihan akan menghantarkan pada batas makruh. Lalu bagaimana jika terus-menerus dalam bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat?!</p>
<p>Berdasarkan atas hal ini, maka tidak diragukan lagi makruhnya. Inilah maksud orang yang memfatwakan makruhnya. Di samping itu pemakruhan hanyalah dinukil oleh orang yang menukilnya dari pernyataan-pernyataan ulama terdahulu dan para ahli fatwa. Maka riwayat-riwayat penulis Jami’ul Barakat, Siraj Al Munir, dan Mathalib Al Mu’minin misalnya, tidaklah mampu menyamainya karena kelonggaran penulisnya dalam meneliti riwayat-riwayat telah terbukti. Dan telah diketahui oleh Jumhur Ulama bahwa mereka mengumpulkan segala yang basah dan kering (yang jelas dan yang samar).</p>
<p>Dan yang lebih mengherankan lagi ialah penulis Khazanah Ar Riwayah tatkala ia berkata : (Nabi) <em>‘Alaihis Salam</em> berkata :<em> “Jabat tanganlah kalian setelah shalat Shubuh niscaya Allah akan menetapkan bagi kalian sepuluh (kebaikan).” Dan berkata Rasul Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam : “Berjabat tanganlah kalian setelah shalat Ashar niscaya kalian akan dibalas dengan rahmah dan pengampunan.”</p>
<p></em>Sementara dia tidak memahami bahwa kedua hadits ini dan yang semisalnya adalah palsu yang dibuat-buat oleh orang-orang yang berjabat tangan itu. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. ] (As Sa’aayah fi Al Kasyfi Amma fi Syarh Al Wiqayah halaman 265)</p>
<p>Akhirnya sebagai penutup harus diperingatkan bahwa tidak boleh bagi seorang Muslim memutuskan tasbih (dzikir) saudaranya yang Muslim kecuali dengan sebab syar’i. Yang kami saksikan berupa gangguan terhadap kaum Muslimin ketika mereka melaksanakan dzikir-dzikir sunnah setelah shalat wajib kemudian dengan tiba-tiba mereka mengulurkan tangan untuk berjabat tangan ke kanan dan ke kiri dan seterusnya yang memaksa mereka tidak tenang dan terganggu, bukan hanya karena jabat tangan, akan tetapi karena memutuskan tasbih dan mengganggu mereka dari dzikir kepada Allah karena jabat tangan ini, padahal tidak ada sebab-sebab perjumpaan dan semisalnya.</p>
<p>Jika permasalahannya demikian, maka bukanlah termasuk dari hikmah jika Anda menarik tangan Anda dari tangan orang di samping Anda dan menolak tangan yang terulur pada Anda. Karena sesungguhnya ini adalah sikap yang kasar yang tidak dikenal dalam Islam. Akan tetapi ambillah tangannya dengan lemah lembut dan jelaskan kepadanya kebid’ahan jabat tangan ini yang diada-adakan manusia.</p>
<p>Betapa banyak orang yang terpikat dengan nasihat dan dia orang yang pantas dinasihati. Hanya saja ketidaktahuan telah menjerumuskannya kepada perbuatan menyelisihi sunnah. Maka wajib atas ulama dan penuntut ilmu menjelaskannya dengan baik. Bisa jadi seseorang atau penuntut ilmu bermaksud mengingkari kemungkaran tetapi tidak tepat memilih metode yang selamat. Maka dia terjerumus dalam kemungkaran yang lebih besar daripada yang diingkari sebelumnya. Maka lemah lembutlah wahai da’i-da’i Islam.</p>
<p><strong>Buatlah manusia mencintai kalian dengan akhlak yang baik niscaya kalian akan menguasai hati mereka dan kalian mendapati telinga yang mendengar dan hati yang penuh perhatian dari mereka. Karena tabiat manusia adalah lari dari kekasaran dan kekerasan. (Tamam Al Kalam fi Bid’ah Al Mushafahah Ba’da As Salam halaman 23)<br />
</strong><br />
(Dikutip dari: Al Qaulul Mubin fi Akhth’ail Mushallin karya Syaikh Masyhur Hasan Salman)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cintaislam.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cintaislam.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaislam.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaislam.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaislam.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaislam.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaislam.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaislam.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaislam.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaislam.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaislam.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaislam.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaislam.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaislam.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaislam.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaislam.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaislam.wordpress.com&amp;blog=557069&amp;post=56&amp;subd=cintaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaislam.wordpress.com/2007/07/05/mengucapkan-salam-dan-berjabat-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/406628410a46c869631bdf95473ff393?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">madah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
