Menunda-nunda dan Tergesa-gesa

November 21, 2006 at 8:41 pm 1 komentar

MediaMuslim.Info – Tergesa-gesa dan Menunda-nunda adalah termasuk pintu masuk setan. Demikian pula berpanjang angan-angan. Sebagian manusia menyebutnya “hambatan terbesar”. Apa maksudnya? Sebagian orang meletakkan satu perkara yang dianggap harus diprioritaskan sebagai hambatannya, lalu misalnya berkata, ‘Kalau aku selesai sekolah, baru –insya Alloh– aku akan bertobat!’

Ini contoh hambatannya berupa sekolah. Tapi setelah selesai sekolahnya, dia berkata, ‘Kalau aku sudah mendapat pekerjaan itu, aku bertobat’. Kemudian diperolehnya pekerjaan tadi, namun dia tidak bertobat juga. Demikianlah selanjutnya, dia menyatakan hambatan berikutnya, ‘kalau aku berhaji … kalau aku menikah …kalau….kalau….’Terus-terusan dia meletakkan satu hambatan di hadapannya, dan menunda-nunda serta hidup dalam berpanjang angan-angan. Akhirnya dia mati tanpa memulai kehidupan hakikinya (dengan beriltizam, memegang teguh dienul Islam)!

Sesungguhnya tujuan akhir yang dikehendaki setan darimu adalah menghalangimu agar kamu tidak beramal, atau agar menunda-nundanya, dimana ini merupakan pintu masuk yang membahayakan orang-orang shalih.

Setan datang kepadamu dan berkata, ‘Kamu belum pantas –sampai sekarang– untuk mengajari manusia, atau mendakwahi mereka…tunggulah sampai kamu belajar!’

Padahal kita diperintahkan untuk menyampaikan apa yang kita punya walau hanya seayat. Maka jika kamu sudah mempelajari sesuatu, ajarkanlah meskipun hanya seayat saja!

Imam Ibnul Jauzi dalam buku ‘Talbiis Iblis’ berkata, ‘Betapa banyak orang yang bertekad teguh, dibuat menanti-nanti’, yaitu dibuat berkata ‘nanti saja’ oleh setan. Ibnul Jauzi melanjutkan, ‘Betapabanyak pula yang berusaha untuk berbuat baik dipengaruhi setan untuk menunda-nundanya’.

Betapa sering seorang alim bertekad untuk mengulang ilmu yang dipelajarinya, dibujuk setan dengan perkataan, ‘Istirahatlah sejenak’. Setan terus menerus meniupkan kecintaan pada ekmalasan dan penundaan amal. Bahkan betapa sering setan datang pada ahli ibadah di waktu malam ketika akan shalat malam dengan bujukan, ‘Waktu malam kan masih panjang? Tundalah shalatmu!’. Sampai-sampai shubuh datang dan dia tidak shalat malam!

(Sumber Rujukan: Madaakhilusy Syaithaan ‘ala Ash Shalihin, oleh Dr Abdullah Al Khaathir )

Entry filed under: Cinta, Hizbut Tahrer, Islam, Muslim, Tarbiyah, Tobat, Tsaqofah. Tags: .

Untuk Apa Hidup Kita? Nilai Agung Kembalinya Seorang Hamba

1 Komentar Add your own

  • 1. guss  |  Desember 5, 2006 pukul 7:53 am

    betul sekali menunda-nunda dan tergesa-gesa adalah pasangan hidup yang susah dipisahkan, kembar siam dari neraka…
    apalagi kalau berkait kerjaan… nunda2.. asyik betul
    ibadah juga! pantesan sulit untuk khusyuk karena sebelumnya telah berpeluk erat dengan syetan dengan menunda-nundanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


November 2006
S S R K J S M
    Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Total Pengunjung

  • 154,066 Pengunjung
Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: