Diantara Cinta, Ada ‘Mereka’ Yang Membutuhkan Nurani

Januari 18, 2007 at 2:23 pm Tinggalkan komentar

Perintah Allah terhadap Nabi Ibrahim, “Setelah keduanya berserah bulat−bulat (menjunjung perintah itu) dan Nabi Ibrahim merebahkan anaknya dengan meletakkan iringan mukanya, atas tompok tanah (untuk disembelih) serta kami menyeruhnya : Wahai Ibrahim, “Engkau telah menyempurnakan maksud mimpi yang engkau lihat itu,”demikianlah sebenarnya kami membalas orang−orang yang berusaha mengerjakan kebaikan”. (QS. Ash−Shaaffat: 103−105)
Antara cinta dan pengorbanan tidak hanya milik Nabi Ibrahim, tanpa disadari meski harus memilih tetapi kita harus mampu mengatakan. Lalu wujud cinta dan pengorbanan seperti apa bagi kita?

Kita sudah sepantasnya tahu jawabannya. Sebagai orang perkotaaan dan berduit, ditengah kesibukan, terkadang kita lupa dengan kewajiban utama, yaitu wujud syukur atas rahmat yang diberikan Sang Khalik.

Tapi kebanyakan justru yang terjadi wujud syukur dijadikan kesenangan pada dunia dan itu dilakukan dengan berbagai cara. Sebagai pola kesenangan Harta, Tata dan Wanita dijadikan pola khusus.

Sedangkan untuk memikirkan rasa cinta pada sesama secara berjamaah saja sulit. Bahkan lebih mementingkan tentang keluarga sendiri daripada pemikiran masalah ekonomi dan sosial yang ada di depan mata. Akhirnya yang terjadi, kemiskinan masih milik saudara kita yang tinggal di kolong jembatan, korban bencana dan manusia yang merasa tertindas pada penguasa.

Kategori miskin seakan seperti misteri yang tak berujung. Begitu mudah mengatakan kasihan tapi tak semudah untuk menuainya. Segala pensucian diri di kubur dalam sebuah ucapan kosong tanpa makna. Tema dibentuk mirip sandiwara revolusi kemiskinan. Tanpa sadar dusta dan ambisi menuai menjadi kemurkaan.

Bencana alam, luapan lumpur salah satu bentuk kemurkaan Sang Khalik. Akhirnya miskin menjadi pembicaraan. Itulah yang terjadi. Kemelut kemiskinan sudah terbelit. Arahan program pengentasan kemiskinan oleh pemerintah semakin sulit. Padahal duit yang dikeluarkan tidak sedikit. Tapi hidup semakin sulit. Harga terjepit dan rakyat menjadi menjerit.

Untungnya Allah SWT telah membuktikan kemulian yang tak pernah habis dimakan sejarah, yaitu Idul Adha atau dikenal dengan hari Qurban. Adanya Qurban, sudah sepatasnya umat mendengar himbauan ini. Sebuah bentuk salah satu amalan pensucian diri.

Selain menunaikan ibadah haji juga memberi kesenangan pada sesama. Jika hanya memikirkan dunia saja, itu hanya perumpamaan kosong yang tak berujung. Sebuah kenistayaan jika sekelompok “mereka” tidak pernah menikmati daging Qurban.

Ibadah Qurban sudah jelas terbukti dan bermanfaat. Qurban adalah sebuah wujud cinta dan pengorbanan tanpa dapat upeti. Pastinya “mereka” selalu berharap. Walau hanya sesaat. Ada doa tersimpan pada “mereka”.

Semoga ibadah Qurban, tidak membuat sedih pada “mereka” tapi ada harapan kesenangan secara berjamaah. Berikan nurani kita pada “mereka” dan jangan sampai terkubur tanpa ada amalan ibadah. Sedikit amalan yang kita berikan walau hanya segenggam daging tapi sudah membahagiakan keluarganya. (PKPU)

Entry filed under: Cinta, Cinta ISlam, daulah, Harokah, Hizbut Tahrer, Islam, Love, Muslim, Religius, Tarbiyah. Tags: .

Virus Yang Mewabah di Tengah Ummat Tanda Cinta untuk Allah dengan Berkurban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Total Pengunjung

  • 154,066 Pengunjung
Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: