Memuliakan Tetangga

Januari 28, 2007 at 3:30 am Tinggalkan komentar

”Syukur deh, akhirnya dia pindah,” ujar seorang ibu dengan raut muka yang cerah. Ibu yang ada di sebelahnya tak mau kalah, ”Gimana kalau sekarang kita numpeng atau ngerujak?” Beberapa orang ibu mengiyakan serempak. Pada hari itu beberapa orang tetanggaterutama ibu-ibu–tampak begitu gembira. Ternyata pada pagi harinya, keluarga Fulan yang rumahnya persis berada di samping rumah saya telah pindah ke kampung sebelah.
Memang, keluarga Fulan termasuk keluarga yang kurang disenangi, malah sangat tidak disenangi, sehingga keberadaannya sedikit banyak ‘mengganggu’ kenyamanan lingkungan sekitar. Karena itu, tak heran bila kepindahannya ‘disyukuri’ para tetangga. Manusia, pada dasarnya, termasuk ke dalam makhluk ijtima’i (makhluk sosial). Saat lahir dia membutuhkan dekapan seorang ibu, saat kecil membutuhkan teman bermain, saat dewasa membutuhkan teman hidup, kemudian saat beranjak tua manusia membutuhkan orang-orang yang mau merawat serta memperhatikannya.

Bahkan saat meninggal pun masih membutuhkan orang lain untuk memandikan, menshalatkan, dan menguburkannya, selain membutuhkan orang yang mau mendoakannya. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa manusia sejak ia sebelum lahir hingga setelah meninggal pasti membutuhkan kehadiran orang lain. Karena itu sangat tidak tepat bila kita menjadi orang egois yang senantiasa mementingkan diri sendiri. Kita tidak akan bisa hidup tanpa orang lain, bahkan saat kematian sekalipun.

Dalam posisi seperti inilah arti penting tetangga sebagai orang yang dekat dengan kita dapat kita tempatkan. Terkadang kedudukan tetangga jauh lebih penting daripada saudara, karena merekalah pihak pertama yang kita mintai pertolongan saat kita dalam posisi bahaya. Demikian pentingnya tetangga, hingga Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa kualitas keimanan seseorang, salah satu tolak ukurnya adalah sejauh mana ia mampu berbuat baik terhadap tetangganya.

Tetangga, sejatinya bukan hanya sebatas orang yang rumahnya dekat dengan kita, tapi meliputi siapa saja yang ada di sekitar kita, bahkan bisa mencakup hubungan dua bangsa. Ada satu kisah menarik tentang hal ini. Sesaat setelah meminum teh manis, Abdullah bin Mas’ud membuang sisa tehnya itu ke tanah. Saat ditanya kenapa ia membuang sisa teh itu, Abdullah bin Mas’ud menjawab, ”Saya hanya ingin berbuat baik dengan tetangga saya.

” Ternyata tetangganya itu adalah sekumpulan semut kecil yang ada di bawah tempat duduknya. Berbicara soal hidup bertetangga (dalam konteks orang yang rumahnya dekat dengan kita), kita tidak bisa melepaskannya dari etika. Etika di sini adalah bagaimana kita bersikap secara baik dan proporsional. Tentu kita tidak bisa menuntut tetangga kita berbuat baik kepada kita.

Yang harus kita lakukan adalah memulai berbuat baik kepada tetangga kita. Pertama, berbahagia apabila tetangga kita mendapatkan karunia dan ikut bersedih (berempati) apabila tetangga kita mendapatkan musibah. Hal ini tentunya akan melahirkan sikap ingin membantu. Kedua, berpikiran positif terhadap apapun yang dilakukan tetangga kita. Jangan berprasangka negatif dan selalu memperhatikan semua yang dilakukan oleh tetangga kita.

Karena itu, alangkah baiknya kalau kita memiliki kegiatan padat karya, sehingga waktu-waktu kita tidak tersita dengan memperhatikan orang lain. Bila kita sibuk dengan aktivitas, maka sangat sedikit peluang bagi kita untuk bergosip, membicarakan tetangga, dan lainnya. Bahkan bila waktu kita padat dengan aktivitas, maka waktu yang sedikit untuk berinteraksi dengan tetangga akan lebih berkesan dan menambah persaudaraan. Ketiga, selalu berbagi bila punya kelebihan rezeki.

Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk saling memberi hadiah, karena hal itu akan melahirkan kecintaan di antara sesama. Bahkan saat orang lain berbuat keburukan, kita tidak dianjurkan untuk membalasnya dengan keburukan yang serupa. Keempat, andai terjadi pertentangan di antara tetangga, maka kita jangan memihak salah satu.

Alangkah baiknya apabila kita bisa menjadi mediator untuk mendamaikan tetangga kita yang saling bermusuhan tersebut. ”Perbaikilah hubungan di antara kalian,” begitulah perintah Allah SWT. Itulah sebagian cara yang dicontohkan Rasulullah dalam hal memuliakan tetangga. Semoga kita termasuk orang yang dimuliakan Allah karena memuliakan tetangga kita. Amiin (Ems)

Entry filed under: Cinta, Cinta ISlam, daulah, Harokah, Hizbut Tahrer, Islam, Love, Muslim, Religius, Tarbiyah, Tobat, Tsaqofah. Tags: .

Jika Aku Jatuh Cinta … Minggu di Victoria Park

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Total Pengunjung

  • 154,066 Pengunjung
Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: